Minggu, 27 Januari 2013

Celoteh Sang Dongkang (bag. 1)

Tadi pagi aku bangun “kepupungan” walau gak kesiangan. Aku duduk termangu di depan kamar beberapa saat menatap kosong ke kolam depan kamarku. Airnya yang hijau sedikit menyegarkan mataku yang baru menatap dunia setelah dari peraduan. Namun berbeda dengan lele dan beberapa ikan penghuninya, mereka begitu tersiksa karena begitu sedikit oksigen yang bisa terhirup dan keterbatasan dalam melihat makanan. Mereka pasti memakiku karena menaruh mereka di “neraka” itu. Ya, aku memang salah karena aku tidak mengganti airnya. Aku lelah karena jika sudah diganti, 1 minggu lagi pasti hijau. Ikan “sapu-sapu”nya sudah pergi mendahului kawan-kawannya. Yah, hidup mati tiada yang dapat menentukan. Cuma Tuhan yang tahu kapan itu terjadi.

Mendadak seekor kodok “Dongkang” melompat di depanku sehingga aku sedikit terhenyak, terbangun dari lamunanku. Dia hanya nyengir dan mem“flip flop” senyumnya di sudut bibirnya, lagi di kiri lagi di kanan, berselang seling. Aku coba membalas senyuman anehnya itu. Tanpa ku duga dan aku harapkan, dia bertanya, “Mengapa kau melamun di sini dan tatapanmu begitu nanar tapi kosong? Apa yang sedang kau pikirkan? Bukankah kau, manusia, sangatlah beruntung, dapat melakukan apapun yang kau mau. Aku, hanya seekor Dongkang, bangun dari tidurku sering hanya pada musim hujan, untuk mencari pasangan yang bisa kuajak untuk melanjutkan generasiku, dari darahku, dari selku, dari genku sendiri. Sisanya, yah seperti yang ku tahu, aku hanya tidur berhibernasi: di batok kelapa; di sela-sela batu/ batako/ bata/ kayu, dsb; bahkan sempat kau pergoki aku menyelinap masuk ke kamar mandimu, menyelinap ke sela-sela bak kamar mandimu ketika kau sedang buang hajat. Aku beruntung, kau tidak menghalangiku atau bahkan mungkin membuangku keluar dari kamar mandimu.”

Aku tidak membalas “celotehnya” dan hanya membalas dengan senyuman, sekilas saja lalu kembali menatap ke kolam tak acuh. Dia ternyata tersinggung. Dia melompat ke mukaku dan menyentak mencibir tepat di hidungku. Aku secara refleks menaboknya jatuh. Dia nyengir ketus. Aku mendeliknya dan mengumpatnya : “Hai, kenapa kau berbuat begitu? Apa maksud dan tujuanmu berbuat begitu?”, tanyaku ketus. Tak disangka dia malah tersenyum, kok bisa-bisanya ya? “Aku bertanya kepadamu dengan sopan dan baik-baik, tapi kamu malah tidak acuh padaku, melempar muka dariku. Kenapa sikapmu sangat jauh dari kata “manusia”? Ternyata kau tak lebih baik dariku, seekor Dongkang yang buruk dimana tubuhku berselimut bintik-bintik memualkan. Jenis saja kamu manusia, tapi tak lebih baik dari binatang”, katanya ketus sekali.

Aku mendelik dan berang. “Hei, siapa kau, apa kau sehingga kau merasa punya hak untuk men-Jugde-ku, menilaiku. Aku punya hak kan untuk menjawab pertanyaanmu atau tidak. Kenapa kau sewot sekali. Emangnya kamu siapaku? Istriku saja tidak pernah terlalu mencampuri urusanku.”, jawabku tak kalah ketus.
“Aku kan cuma bertanya sebagai suatu bentuk rasa sosialku, kepedulianku pada lingkungan sekitarku. Dan rasa terima kasihku mengingat selama ini kau tidak pernah mengeluh akan keberadaanku dan bangsaku yang selama ini mungkin agak mengganggumu. Apakah itu salah, huh? Kau janganlah memandang remeh padaku. Aku memang kecil dan seakan tak berguna. Tapi ketika musim penghujan dan banyak nyamuk, aku dan bangsakulah yang telah memakan nyamuk-nyamuk itu sehingga mereka tidak akan mengganggumu. Memang sie itu lebih banyak porsinya untuk keuntungan kami tapi setidaknya kami ingin terlihat berguna di matamu. Kami hanya ingin peduli pada lingkungan kami. Apa kami salah?”.

Jawabannya mengusik logika dan nalarku. Memang ada benarnya juga kata-katanya. Akhirnya aku menjawab pertanyaan kali pertamanya. Aku tidak ingin berdebat dengannya, seekor dongkang yang pastinya pintar ini dan kelihatan baik pula. “Aku memikirkan bagaimana jalan hidupku berikutnya dan bagaimana pula aku menjalaninya. Aku sudah punya istri, seorang anak perempuan dan sebentar lagi akan bertambah satu lagi. Sedangkan aku tidak punya pekerjaan yang pasti untuk dapat kunafkahi mereka sebagai bagian dari tugasku sebagai seorang suami-kepala rumah tangga sekaligus ayah. Profesiku sebagai guru honorer jelas tidak akan mampu menanggung semua itu. Beban pikiranku bertambah dengan adanya hutang yang banyak, sangat jauh timpang dari penghasilanku. Aku merasa tidak akan mampu membayar hutang itu. Entah bagaimana keluarga kecilku nanti harus menjalani hidup denganku yang tidak berkompeten sama sekali sebagai seorang ayah sekaligus suami ini?” Aku akhiri dengan desahan tanda kepasrahanku.
Tak kunyana, si dongkang melompat ke pahaku. Dia tersenyum dan menepuk pahaku dengan kaki kanan depannya, seperti seorang teman lama saja. 

“Hei manusia, entah siapapun namamu. Kenapa kamu seperti berputus asa begitu? Kenapa kamu memikirkan dengan begitu “berat” hal-hal yang belum terjadi dan mungkin saja tidak akan terjadi. Otakmu terlalu banyak bekerja, bekerja yang tiada hasilnya. Boros energi saja. Kenapa tidak gunakan energi itu ke tubuhmu sehingga kamu bisa lebih banyak bekerja ketimbang banyak pikir yang tiada berguna seperti ini. Maaf, bukannya aku ingin mengkuliahimu wahai manusia yang tiada banding denganku, binatang kecil yang tiada berarti. Tapi mungkin kamu ingin mendengarkan nasehat kecil dariku.” Dia memandangku lekat sambil mengusap-usap mukanya seakan meminta persetujuanku. Aku Cuma membalas dengan gelengan kecil dan senyum kecut di sudut bibirku. Aku juga tak tahu apakah aku mau mendengarkan nasehatnya atau tidak. Tapi yang jelas, dia menangkap tanda itu sebagai tanda setuju dariku karena dia mulai berbicara bak seorang sastrawan/dosen.

-----bersambung-----