Tadi pagi aku bangun “kepupungan” walau gak
kesiangan. Aku duduk termangu di depan kamar beberapa saat menatap
kosong ke kolam depan kamarku. Airnya yang hijau sedikit menyegarkan
mataku yang baru menatap dunia setelah dari peraduan. Namun berbeda
dengan lele dan beberapa ikan penghuninya, mereka begitu tersiksa karena
begitu sedikit oksigen yang bisa terhirup
dan keterbatasan dalam melihat makanan. Mereka pasti memakiku karena
menaruh mereka di “neraka” itu. Ya, aku memang salah karena aku tidak
mengganti airnya. Aku lelah karena jika sudah diganti, 1 minggu lagi
pasti hijau. Ikan “sapu-sapu”nya sudah pergi mendahului kawan-kawannya.
Yah, hidup mati tiada yang dapat menentukan. Cuma Tuhan yang tahu kapan
itu terjadi.
Mendadak seekor kodok “Dongkang” melompat di
depanku sehingga aku sedikit terhenyak, terbangun dari lamunanku. Dia
hanya nyengir dan mem“flip flop” senyumnya di sudut bibirnya, lagi di
kiri lagi di kanan, berselang seling. Aku coba membalas senyuman anehnya
itu. Tanpa ku duga dan aku harapkan, dia bertanya, “Mengapa kau melamun
di sini dan tatapanmu begitu nanar tapi kosong? Apa yang sedang kau
pikirkan? Bukankah kau, manusia, sangatlah beruntung, dapat melakukan
apapun yang kau mau. Aku, hanya seekor Dongkang, bangun dari tidurku
sering hanya pada musim hujan, untuk mencari pasangan yang bisa kuajak
untuk melanjutkan generasiku, dari darahku, dari selku, dari genku
sendiri. Sisanya, yah seperti yang ku tahu, aku hanya tidur
berhibernasi: di batok kelapa; di sela-sela batu/ batako/ bata/ kayu,
dsb; bahkan sempat kau pergoki aku menyelinap masuk ke kamar mandimu,
menyelinap ke sela-sela bak kamar mandimu ketika kau sedang buang hajat.
Aku beruntung, kau tidak menghalangiku atau bahkan mungkin membuangku
keluar dari kamar mandimu.”
Aku tidak membalas “celotehnya” dan
hanya membalas dengan senyuman, sekilas saja lalu kembali menatap ke
kolam tak acuh. Dia ternyata tersinggung. Dia melompat ke mukaku dan
menyentak mencibir tepat di hidungku. Aku secara refleks menaboknya
jatuh. Dia nyengir ketus. Aku mendeliknya dan mengumpatnya : “Hai,
kenapa kau berbuat begitu? Apa maksud dan tujuanmu berbuat begitu?”,
tanyaku ketus. Tak disangka dia malah tersenyum, kok bisa-bisanya ya?
“Aku bertanya kepadamu dengan sopan dan baik-baik, tapi kamu malah tidak
acuh padaku, melempar muka dariku. Kenapa sikapmu sangat jauh dari kata
“manusia”? Ternyata kau tak lebih baik dariku, seekor Dongkang yang
buruk dimana tubuhku berselimut bintik-bintik memualkan. Jenis saja kamu
manusia, tapi tak lebih baik dari binatang”, katanya ketus sekali.
Aku mendelik dan berang. “Hei, siapa kau, apa kau sehingga kau merasa
punya hak untuk men-Jugde-ku, menilaiku. Aku punya hak kan untuk
menjawab pertanyaanmu atau tidak. Kenapa kau sewot sekali. Emangnya kamu
siapaku? Istriku saja tidak pernah terlalu mencampuri urusanku.”,
jawabku tak kalah ketus.
“Aku kan cuma bertanya sebagai suatu
bentuk rasa sosialku, kepedulianku pada lingkungan sekitarku. Dan rasa
terima kasihku mengingat selama ini kau tidak pernah mengeluh akan
keberadaanku dan bangsaku yang selama ini mungkin agak mengganggumu.
Apakah itu salah, huh? Kau janganlah memandang remeh padaku. Aku memang
kecil dan seakan tak berguna. Tapi ketika musim penghujan dan banyak
nyamuk, aku dan bangsakulah yang telah memakan nyamuk-nyamuk itu
sehingga mereka tidak akan mengganggumu. Memang sie itu lebih banyak
porsinya untuk keuntungan kami tapi setidaknya kami ingin terlihat
berguna di matamu. Kami hanya ingin peduli pada lingkungan kami. Apa
kami salah?”.
Jawabannya mengusik logika dan nalarku. Memang
ada benarnya juga kata-katanya. Akhirnya aku menjawab pertanyaan kali
pertamanya. Aku tidak ingin berdebat dengannya, seekor dongkang yang
pastinya pintar ini dan kelihatan baik pula. “Aku memikirkan bagaimana
jalan hidupku berikutnya dan bagaimana pula aku menjalaninya. Aku sudah
punya istri, seorang anak perempuan dan sebentar lagi akan bertambah
satu lagi. Sedangkan aku tidak punya pekerjaan yang pasti untuk dapat
kunafkahi mereka sebagai bagian dari tugasku sebagai seorang
suami-kepala rumah tangga sekaligus ayah. Profesiku sebagai guru honorer
jelas tidak akan mampu menanggung semua itu. Beban pikiranku bertambah
dengan adanya hutang yang banyak, sangat jauh timpang dari
penghasilanku. Aku merasa tidak akan mampu membayar hutang itu. Entah
bagaimana keluarga kecilku nanti harus menjalani hidup denganku yang
tidak berkompeten sama sekali sebagai seorang ayah sekaligus suami ini?”
Aku akhiri dengan desahan tanda kepasrahanku.
Tak kunyana, si
dongkang melompat ke pahaku. Dia tersenyum dan menepuk pahaku dengan
kaki kanan depannya, seperti seorang teman lama saja.
“Hei manusia,
entah siapapun namamu. Kenapa kamu seperti berputus asa begitu? Kenapa
kamu memikirkan dengan begitu “berat” hal-hal yang belum terjadi dan
mungkin saja tidak akan terjadi. Otakmu terlalu banyak bekerja, bekerja
yang tiada hasilnya. Boros energi saja. Kenapa tidak gunakan energi itu
ke tubuhmu sehingga kamu bisa lebih banyak bekerja ketimbang banyak
pikir yang tiada berguna seperti ini. Maaf, bukannya aku ingin
mengkuliahimu wahai manusia yang tiada banding denganku, binatang kecil yang
tiada berarti. Tapi mungkin kamu ingin mendengarkan nasehat kecil
dariku.” Dia memandangku lekat sambil mengusap-usap mukanya seakan
meminta persetujuanku. Aku Cuma membalas dengan gelengan kecil dan
senyum kecut di sudut bibirku. Aku juga tak tahu apakah aku mau
mendengarkan nasehatnya atau tidak. Tapi yang jelas, dia menangkap tanda
itu sebagai tanda setuju dariku karena dia mulai berbicara bak seorang
sastrawan/dosen.
-----bersambung-----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar