GURU
PROFESIONAL
Perspektif
Agama Hindu
‘Para guru adalah
para penyebar (penerus) kebenaran, para orator yang cemerlang dan suci bagaikan
memiliki tubuh kedewaan’
Rgveda X. 65. 7
Pendahuluan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai
penjabaran Undang-Undang R.I. Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(Sisdiknas), Undang-Undang R.I. Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan
Peraturan Pemerintah R.I. Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP) maka semua hal tentang penyelenggaraan pendidikan, termasuk pendidikan
dasar, menengah, dan tinggi harus mengacu pada SNP tersebut. SNP berfungsi
sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam
rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. SNP mencakup 8 standar
minimal, yang terdiri atas: (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar
Mutu Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar
Pengelolaan, (6) Standar Pembiayaan, (7) Sarana dan prasarana, (8) Standar
Penilaian Pendidikan.
Guru termasuk salah satu komponen yang sangat penting
dalam SNP tersebut, oleh karena itu peningkatan kualifikasi guru diarahkan
menjadi guru yang profesional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang R.I.
Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di atas. Sehubungan dengan hal
tersebut, maka dalam tulisan ini dibahas bagaimana seorang guru yang
profesional menurut kitab suci Veda dan susastra Hindu, mengingat pendidikan
menurut ajaran Agama Hindu memegang peranan yang sangat penting yang
mengantarkan umat manusia mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang populer
dikenal dengan istilah jagadhita dan mokûa.
Di dalam Veda dan susastra Hindu sangat banyak
digambarkan dan diulas bagaimana tugas dan kewajiban seorang guru, dan demikian
besar peranan guru-guru rohani Hindu yang mengembangkan ajaran Agama Hindu yang
dapat diwarisi dan digali dewasa ini, oleh karena itu dalam ajaran Agama Hindu
seorang guru memiliki posisi sentral dan terhormat di tengah-tengah masyarakat.
Di negara-negara maju pendidikan termasuk kualitas dan kesejahteraan guru
selalu mendapatkan perhatian, hal ini dapat dibaca dari pengalaman
bangsa-bangsa di dunia yang tingkat pendidikan demikian maju. Sebagai contoh
Jepang yang pada masa Perang Dunia II kalah total menghadapi Sekutu, namun
dalam waktu singkat mereka dapat mengejar ketertinggalannya. Disebutkan ketika
Kaisar bertanya kepada Panglima Angkatan
-------------------------
*
Makalah disampaikan pada acara Seminar Pendidikan diselenggarakan oleh badan
Ekskutif Mahasiswa (BEM) Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar bertempat di
Kampus Singaraja, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009.
**
Prof. Dr I Made Titib, Ph.D, Guru Besar Fakultas Brahma Widya, Institut Hindu
Dharma Negeri Denpasar, mantan Direktur Urusan Agama Hindu, Ditjen. Bimas Hindu
dan Buddha, Departemen Agama R.I, mantan anggota TNI-AD, Ketua I Pengurus
Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, mantan anggota DPRD Bali
(1997-1999), dan mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Denpasar. Kini Dekan
Fakultas Brahma Widya (Fakultas Filsafat dan Teologi) Institut Hindu Dharma
Negeri Denpasar, dan Wakil Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia
Pusat.
-------------------------
Bersenjata-Nya(guru), ia mendapat
jawaban bahwa sangat banyak tentara yang gugur di medan perang dan Kaisar
menanyakan kembali bagaimana halnya dengan para guru. Kaisar mendapat jawaban
bahwa tidak ada guru yang gugur dalam pertempuran, spontan Kaisar menegaskan
kalau guru bisa membuat tentara yang tangguh, tetapi tentara belum tentu mampu
membuat guru yang profesional. Adapun makna dari ilustrasi ini adalah guru
sangat berperanan dalam memajukan pendidikan di Jepang hingga negara ini
mengalami kemajuan ilmu dan teknologi sejajar dan bahkan dalam hal tertentu
lebih maju dengan negara-negara Eropa dan Amerika.
Guru menurut kitab suci Veda
Di dalam Bahasa Sanskerta terminologi guru mempunyai
makna yang sangat luas, tidak hanya guru sebagai pendidik tetapi lebih dari hal
itu adalah membebaskan kegelapan pikiran umat manusia, oleh karena itu, Tuhan
Yang Maha Esa juga disebut guru dan bahkan mahaguru
atau paramestiguru. Perhatikan mantra
pemujaan yang tercantum dalam Gurugìtà 4 berikut.
Gurur brahmà
gururviûóu gururdevo maheúvaraá,
Gurur sàkûat paraý brahmà tasmai úrigurave namaá.
Guru adalah Brahma, Guru adalah
Viûóu, Guru adalah Úiva,
Guru adalah Brahman yang
tertinggi, hamba bersujud kepada Guru.
Di dalam Veda, seseorang yang memberikan pendidikan disebut àcàrya. Nama lainnya adalah “adhyàpaka” yang juga berarti guru, di
samping kata “guru” itu sendiri,
sedang siswa (perubahan dari kata úiûya) disebut Brahmacàri, juga disebut “vidyàrti”, yang berarti yang mengejar
dan mempelajari ilmu pengetahuan. Àcàrya
berarti seseorang yang dianggap tidak hanya memberikan ilmu pengetahuannya
secara teoritis kepada para siswa, tetapi juga memperbaiki karakter mereka.
Pengertian àcàrya adalah: “àcàraý grahayatìti àcàryaá” yang berarti
ia yang memberikan pendidikan karakter (seseorang). Dua hal penting dalam
sistem pendidikan menurut Veda adalah brahmacarya
dan àcàrya dan melalui kebersamaan
keduanya seorang siswa dapat meningkatkan perbaikan moralitas dan karakternya.
Adalah tugas seorang guru,
ketika seorang siswa menghadapnya, untuk meminta diajarkan kepadanya tentang
kebenaran yang sesungguhnya yang ia ketahui (Muódaka Upaniûad I.2.13)., tanpa
menyembunyikan sesuatu dari padanya, untuk sesuatu yang disembunyikan akan
mengakibatkan kejatuhannya (Praúna Upaniûad VI.1). Kitab Taittirìya Àraóyaka
(VII.4) menguraikan bahwa seorang guru mestinya mengajar siswanya dengan
sepenuh hati dan jiwanya. Ia juga terikat, yang menurut Úatapatha Bràhmaóa
(XIV.I.1.26.27) untuk menguraikan segala sesuatunya kepada para siswa, yang tinggal
selama setahun penuh (saývatsara-vàsin). Seorang guru hendaknya cukup bebas,
hal itu mestinya dipahami, untuk menurunkan pengetahuan kepada siswanya, yakni
pengetahuan tentang segala sesuatu yang tidak setara. Satu catatan tentang
kasus-kasus tertentu tentang proses belajar mengajar yang bersifat rahasia
kepada orang tertentu.
Sistem pendidikan menurut Veda
menggambarkan lembaga pendidikan sebagai “kula”
atau “parivara” yang artinya keluarga
yang bertanggung jawab untuk melahirkan putra yang suputra, karena kelahiran
dari ibu, dipandang lebih rendah dipandingkan lahir dari kandungan pendidikan
sastra (sebagai “dvija”, yang lahir
ke dua kali). Tentang keakraban hubungan guru dan siswa sangat jelas
digambarkan dalam mantra Atharvaveda (XI.3.5.3) yang menyatakan: àcàrya upanayamàno brahmacàrióàý kåóute
garbhamantá/ seorang guru menuntun dan menerima siswa (Brahmacàri) seperti
seorang anak dan melindunginya seperti seorang wanita hamil yang melindungi
bayinya di dalam kandungan. Mantra Atharvaveda Kàóða XI. Sùkta terdiri dari 26
mantra menguraikan hubungan yang demikian akrab antara seorang guru dengan para
siswanya, ia melindungi dengan penuh kasih sayang, memberikan pendidikan
utamanya moralitas serta melakukan latihan-latihan rohani, Sàdhana atau
Tapabrata. Menurut mantra Atharvaveda tersebut, seorang guru bukanlah
semata-mata hanya seorang tenaga pengajar, tetapi ia juga menjadi pendidik atau
ayah (seperti ayah kandung) dari para siswanya.
Menurut kitab suci Veda, seharusnya setiap orang mampu menjadi guru
atau berfungsi sebagai guru, memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada yang
bodoh, memajukan pengetahuan dan ketrampilan, memiliki kemampuan untuk
membedakan yang baik dan buruk (bagi anak didik), memiliki wawasan ke depan,
bijaksana, dan menjadi pemimpin masyarakat, penerus kebenaran, orator yang
cemerlang, memajukan ilmu pengetahuan, mendidik moralitas anak didik,
mengkondisikan agar anak didik mengikuti ajaran suci Veda, melindungi
tradisi suci.
Kepala sekolah hendaknya
menjadi contoh dalam kemuliaan moralitas, keras dan adil seperti Yama dan
Varuóa, mendorong semangat hidup seperti Soma, sumber pengetahuan,
mengembangkan keingin-tahuan, menanamkan pengetahuan, disiplin dan kepatuhan.
(1). Menanamkan pengetahuan kepada orang yang bodoh
Ketuý kåóvan aketave peúo maryà apeúase
sam uûadbhir ajàyathàá (Ågveda I. 6. 3).
‘Wahai umat manusia, engkau dilahirkan bersama fajar. Jadilah guru,
berilah pengetahuan kepada orang-orang yang bodoh dan berilah kecantikan kepada
orang-orang yang buruk rupa’
(2). Memajukan pengetahuan dan ketrampilan
Imàm dhiyaý úikûamàóasya deva
kratuý dakûaý varuóa saýúiúàdhi (Ågveda VIII. 42. 3).
‘Ya, Sang Hyang Varuna, majukanlah intelek para siswa dan tanamkanlah
pengetahuan dan ketangkasan kepada mereka’
(3). Para guru adalah orang-orang yang mengetahui cahaya kebenaran
(rahasia)
Gùðhaý jyotiá pitaro anvavindan (Ågveda VII. 76. 4).
‘Orang yang berpengetahuan tinggi memiliki cahaya yang rahasia’
(4). Sifat-sifat seorang
sarjana/guru
Åsir vipro vicakûaóaá (Ågveda IX. 107. 7).
‘Seorang sarjana/guru memiliki pengetahuan yang dalam dan kekuatan
membedakan yang baik dan buruk. Dia bijaksana’
Åûir vipraá pura-età janànàm
(Ågveda IX. 87. 3)
‘Seorang guru adalah seorang yang memiliki wawasam ke depan, bijaksana
dan raja rakyat’
Pàvakavarûóàh úucayo vipaúcitaá
(Ågveda VIII. 3. 3)
‘Mereka memiliki kecemerlangan bagaikan kecemerlangannya seperti api,
memiliki kekuatan membedakan yang baik dan buruk dan mereka bijaksana’
Divakûaso agnijihvà åtàvådhah
(Ågveda X. 65. 7)
‘Para guru adalah para penyebar (penerus) kebe-naran, para orator yang
cemerlang dan suci bagaikan memiliki tubuh kedewaan’
(5). Seorang sarjana mengetahui
rahasia (makna) pembicaraan
Sa cid viveda nihitaý yad àsàm,
apìcyaý guhyaý nàma gonàm (Ågveda IX. 87. 3).
‘Seorang sarjana mengetahui rahasia (makna) pembicaraan’
(6). Milikilah mata yang ketiga (kemampuan
memprediksi) dari pengetahuannya
Tåtìyena jyotiûà saý viúasva
(Ågveda X. 56. 1).
‘Wahai umat manusia, milikilah mata ketiga dari pengetahuan itu’
(7). Majukanlah pengetahuanmu
dan intelekmu
Brahma jinvatam
uta jinvataý dhiyaá (Ågveda VIII. 35. 16).
‘Ya, para Dewa Asvin, semoga Engkau memajukan pengetahuan dan intelek
kami’
(8). Seorang sarjana mampu
mengendalikan indrianya
Akûàn aho nahyatanota somyàh
(Ågveda X. 53. 7).
‘Wahai para sarjana yang mulia, kendalikanlah organ inderamu’
(9). Tanamkanlah
pengetahuan kepada orang-orang bodoh (tidak tahu)
....acetayad acito devo aryah.... (Ågveda VII.86.7).
‘Sang Hyang Varuòa yang mulia menanamkan pengetahuan kepada orang-orang
bodoh (orang tidak tahu)’
(10). Para guru menyebarkan
pengetahuan.
Jyotir yacchanti saviteva bàhù
(Ågveda VII. 79. 2).
‘Mereka, bagaikan sinar matahari, menyebarkan terang (pengetahuan)’
(11). Bijaksanalah dan buatlah
orang-orang lain menjadi mulia
Manur bhava, janayà daivyaý janam (Ågveda X. 53. 6).
‘Wahai manusia, bijaksanalah dan buatlah orang-
orang lain menjadi mulia’
(12). Ikutilah
perintah-perintah (ajaran) Veda
Mantra-úrutyaý caràmasi (Ågveda X.134. 7).
‘Mari kita ikuti perintah-periratah (ajaran) Veda yang suci’
(13). Intelek menajamkan
pengetahuan
Vajraý úiúàti dhiûaóà vareóyam
(Ågveda VIII.15.7)
‘Intelek itu menajamkan pengetahuan yang berkilauan bagaikan kilat
(halilintar)’
(14). Mereka adalah para
pelindung tradisi yang suci
Jyotiûmatah patho rakûa dhiyà kåtàn (Ågveda X. 53. 6).
‘Semoga engkau melindungi tradisi-tradisi yang mulia yang didirikan
(dilembagakan) oleh para leluhur’
(15). Dia menanamkan
pengetahuan kepada siswa.
Yugàya vipra uparàya úikûan
(Ågveda VII.87. 4)
‘Guru yang berpengetahuan tinggi menanamkan pengetahuan kepada para siswa
yang mendekati dia’
(16). Dia menjelaskan
rahasia-rahasia kitab suci
Vidvàn padasya guhyà na vocat (Ågveda VII.87.4).
‘Para sarjana dapat mengungkapkan berbagai rahasia (pengetahuan)’
(17). Pendaftaran siswa oleh
kepala sekolah.
Àchàrya upanayamàno brahmacàrióaý kåóute
garbham antaá (Atharvaveda XI. 5. 3).
‘Seorang pendidik, pada waktu menerima seorang siswa, memberikan benang
suci (upavita) kepadanya dan berada di bawah pengawasannya’
(18). Para guru sekolah
memelihara keunggulan moral.
Àcàryo brahmacàrì brahmacàrì prajàpatiá (Atharvaveda XI. 5. 16)’
‘Kepala sekolah memelihara keunggulan moral seperti pencipta
alam-semesta’
(19). Sifat-sifat seorang guru.
Àcàryo måtyur varuóaá soma oûadhayaá payaá (Atharvaveda XI. 5. 14).
‘Seorang guru hendaknya keras bagaikan Yama (dewa
kematian), seorang hakim bagaikan dewa Varuna, pemberi semangat hidup bagaikan
dewa Soma, penghancur sifat-sifat buruk bagaikan tumbuh- tumbuhan yang
berkhasiat obat dan penyegar bagaikan air’
(20). Dia
menanamkan pengetahuan
Àcàryas tatakûa nabhasì ubhe ime,
urvì gambhìre påthivìý divaý ca (Atharvaveda XI. 5. 8).
‘Kepala sekolah memperoleh pengetahuan tentang
langit dan bumi serta menanamkannya kepada para siswa’
(21). Dia
adalah perbendaharaan pengetahuan
Guhà nidhì nihitau bràhmaóasya (Atharvaveda XI. 5. 10).
‘Seorang guru menyimpan rahasia-rahasia langit
dan bumi di dalam pikirannya’
(22). Dia
memajukan keingintahuan
Úikûànaraá pradivo akàmakarúanaá (Atharvaveda XX. 21. 2).
‘Seorang guru adalah orang yang memperoleh pencerahan dan dia tidak
menutup keingintahuan para siswanya’
(23). Ajarlah para siswa supaya
patuh.
Úikûeyam in-mahayate dive dive (Ågveda
VII. 32. 19).
‘Kami harus mengajar para siswa supaya patuh setiap hari’
(24). Ajarlah siswa yang cerdas
Úikûeyam asmai ditseyaý úacìpate manìûióe (Ågveda VIII.14. 2).
‘Ya, Tuhan Yang Maha Esa, kami seharusnya mengajarkan dan menanamkan
pengetahuan kepada siswa yang cerdas’
Demikian
sabda Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda tentang tugas dan
kewajiban
seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.
Guru menurut kitab-kitab susastra Hindu
Kitab-kitab susastra Hindu,
khususnya kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa menduduki posisi sebagai salah satu
sumber hukum Hindu, dalam hiarkhis sumber hukum Hindu, yakni sebagai
kitab-kitab Úìla, yang menujukkan bahwa prilaku yang baik dari tokoh-tokoh
dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa, khususnya kitab Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata.
Dalam kedua jenis kitab ini yang terdiri dari beberapa kàóða dan parva. Dalam
Ràmàyaóa dijelaskan sebenarnya proses pendidikan telah berlangsung sejak Ràma
dan adik-adiknya masih dalam kandungan ibunya.
Ketika usia memasuki pendidikan
sistem Aúrama (ashram) Úrì Ràma beserta adik-adiknya mendapat pendidikan yang
sangat baik di bawah guru Vaúiûþha. Berikut salah satu contoh keberhasilan
pendidikan dalam Ràmàyaóa dapat diketengahkan sikap dan keperibadian Úrì Ràma
yang digambarkan sebagai berikut:
Keperibadian Úrì Ràma dilukiskan dalam bentuk pertanyaan Mahàrûi Vàlmìki
kepada Devarûi Nàrada, ketika suatu hari mengunjungi pertapaannya. Setelah
dijamu sebagaimana mestinya, Mahàrûi Vàlmìki (Val.Ràm. I. 1. 2-4) mengajukan
pertanyaan seperti tersebut di atas yang dirinci seperti berikut.
Ko’nvasmin sàýprataý loke guóavàn kaúca vìryavàn,
Dharmajñaúca kåtajñaúca satyavàkye dåþhavrataá.
Càrintreóa ca ko yuktaá sarvabhùteûu ko hita,
Vidvàn kaá kaá samarthaúca kaúcaikapriyaa darúanaá.
Àtmavàn ko jitakrodho dyutimàn ko’nasùyakaá,
Kasya viýbhyati devàúca jàtaroûasya saýyuge.
“Pada saat ini di dunia ini, siapakah yang
sungguh-sungguh diberkati oleh karakter yang baik, yang berpendirian dan
memiliki keberanian? Siapakah yang mengetahui apakah yang disebut Dharma,
yang berbudhi pekerti luhur dan senantiasa berpegangan pada pandangan hidup
yang benar, yang tahu berterima kasih dan senantiasa berbicara benar, dan
senantiasa melakukan berbagai pantangan dalam kehidupannya?
Siapa yang selalu dituntun oleh kabajikan dan
kebijasanaan dalam hidup, dan yang senantiasa memikirkan kebaikan untuk semua
orang? Siapakah yang sangat mengusai dalam seluruh aspek berbagai ilmu
pengetahuan, yang agung, berwibawa dan senantiasa membahagiakan setiap orang
yang memandangnya?
Siapakah yang selalu mampu dan tegar
mengendalikan indrianya, yang mampu menundukkan kemarahan, yang senantiasa
memancarkan kasih sayang, yang tidak memiliki kecemburan dan kebencian kepada
siapa pun? Ia yang ketika sangat marah di medan pertempuran mengakibatkan para
Devatà pun ketakutan?”
Selanjutnya Mahàrûi Vàlmìki kepada Devarûi Nàrada: “Devarûi, anda selalu
melakukan perjalanan di seluruh negara di dunia dan anda senantiasa berhubungan
dengan tokoh-tokoh besar para pemimpinnya dan oleh karena itu, saya ingin
mengetahuinya, siapa seseorang yang anda jumpai yang demikian dirakhmati
seperti itu, mohon dijelaskan kepada saya pertanyaan-pertanyaan yang saya
sampaikan seperti tersebut di atas!”
Devarûi Nàrada menjawab bahwa hal itu sangat sulit untuk menemukan
seseorang yang memiliki kebajikan dan budhi pekerti yang luhur, yang senantiasa
dibimbing oleh kebajikan, mengabdikan hidupnya kepada kebaikan untuk sesama
makhluk hidup. Sangat jarang menemukan orang yang demikian mampu mengembangkan
karakternya sangat mulia dan lebih jauh Devàrûi Nàrada menambahkan:
Keperibadian seseorang yang demikian tinggi dan sangat luhur yang anda rindukan
untuk dijawab sangat sulit ditemukan pada setiap masa. Namun, kita beruntung
dan sangat berbahagia karena telah ada seorang yang memancarkan cahaya, seorang
“Maryàdà Puruûottama”, seseorang yang terbaik di antara umat manusia
yang memiliki semua kebajikan dan karakter yang sangat mulia yang sangat
mungkin sulit dipenuhi oleh orang kebanyakan umumnya. Semua sifat-sifat ideal
dapat ditemukan pada seseorang yang hatinya sangat lapang dan konsisten.
Tingkah lakunya mencerminkan kebajikan dan budhi pekerti yang luhur. Ia memiliki
kemampuan yang luar biasa dan kemampuan untuk mengbunuh Raja Ràkûasa Ràvaóa,
yang mencemaskan karena terror dan bencana bagi dunia, dan hanya ia yang mampu
menciptakan kedamaian abadi di dunia ini. Ia meletakkan landasan “Ràmaràjya”,
kebahagiaan yang ideal bagi seluruh masyarakat dan terpenuhi kesejahteraan
hidupnya, lahir dan bathin. Seluruh masyarakat benar-benar merasakan
kebahagiaan dan sangat puas dalam menikmati hidup dan kehidupan. Sekarang
adalah Úrì Ràmachandra yang sedang dinobatkan sebagai raja Ayodhyà dengan
permaisuri Dewi Sìtà, seorang wanita yang sangat mulia sejak kelahirannya yang
senantiasa tegar dalam suka dan duka. Dengan kualifikasi karakter yang mulia
itu, ia mengabdikan hidupnya untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat dan bahkan
mengorbankan kepentingannya pribadi karena lebih mengutamakan kepentingan
masyarakat (Atlekar, 1987: 6).
Berdasarkan uraian tersebut karakter mulia atau budhi pekerti yang luhur
dari Úrì Ràma telah jelas dari penggambaran terjemahan Ràmàyaóa di atas, baik
melalui pertanyaan Mahàrûi Vàlmìki maupun jawab dari Devarûi Nàrada, dilukiskan
dalam kalimat singkat “Maryàdàpuruûottama”, seseorang yang memiliki
segala kebajikan, semua-sifat-sifat mulia yang memancar dari pribadi dan
prilaku Úrì Ràma.
Úrì Ràma adalah personifikasi dari kebenaran, kemuliaan, kebaikan,
kerendahan hati, dan keberanian. Sebagai seorang putra dari seorang raja yang
mulia dan baik, ia mengorbankan kehidupan pribadinya untuk membantu ayahnya
untuk memenuhi janjinya pada istrinya Kaikeyì (ibu tiri Úrì Ràma). Ia
mengasingkan diri di hutan tanpa dendam atau kebencian kepada ibu tirinya itu,
yang merupakan penyebab dari pembuangannya ke hutan. Úrì Ràma memberi nasehat
pada adiknya, Bharata yang sangat marah kepada ibu kabdungnya (Kaikeyì) yang
mengirim kakaknya Úrì Ràma untuk dibuang, untuk mencintai ibunya dan
menghormatinya sebagai seorang ratu (Bansi, 2005:266).
Demikian karakter ideal Úrì Ràma di dalam Ràmàyaóa Sanskerta yang dapat
diteladani sepanjang masa oleh umat manusia. Tingkah laku Úrì Ràma merupakan
Úìla atau teladan yang dijadikan salah satu sumber dari beberapa sumber hukum
Hindu. Hal yang sama dapat dijumpai dalam kitab Mahàbhàrata, khususnya
keperibadian atau karakter dari Pañca Pàndhava, khususnya sifat-sifat
Yudhiûþhira yang patut mendapat teladan seluruh umat manusia. Karakter mulia
kedua tokoh di atas tidak terlepas dari peranan guru yang mendidiknya, di
samping pendidikan orang tua atau keluarga dan pembentukan karakter dipengaruhi
pula oleh lingkungan sosial dan budayanya.
Di dalam kitab susastra Hindu lainnya, khususnya dalam kitab-kitab Småti
dapat dijumpai tentang tugas dan kewajiban seorang guru, di antaranya di dalam
kitab Manavadharmaúàstra, juga dalam kitab-kitab Úàsana yang mengatur tentang
kode etik seorang guru, seperti dapat dijumpai di Bali, dalam kitab Úìlakrama,
Vratiúàsana, Úivaúàsana dan lain-lain. Baik di dalam kitab suci Veda dan
susastra Hindu di atas, tugas guru yang utama adalah mendidik untuk menjadi
karakter yang baik terhadap anak didiknya.
Guru profesional menurut Undang-Undang Guru dan Dosen
Dalam Undang-Undang Guru dan
Dosen (UU No. 14 Tahun 2005, Bab III, Pasal 7) profesi guru atau guru yang
profesional, termasuk juga dosen memiliki prinsip sebagai berikut.
- Memiliki bakat,
minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
- Memiliki
komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, dan akhlak mulia.
- Memiliki
kualifikasi akademik dan latar belakang sesuai dengan bidang tugas.
- Memiliki
kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas.
- Memiliki
tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
- Memperoleh
penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
- Memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat.
- Memiliki jaminan
perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan
- Memiliki
organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan
dengan tugas keprofesionalan guru.
Lebih jauh di dalam Bab IV
Pasal 8 sampai Pasal 13 diatur tentang kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi
guru. Selanjutnya Kode Etik Guru telah terlebih dahulu dirumuskan melalui
Kongres PGRI XIII di Jakarta pada bulan November 1973 (Donder, 2008:260) dan
kompetensi guru dikenal dengan sepuluh komptensi guru dirumuskan oleh
Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Guru
dan Tenaga Teknis, Departemen Diknas (Donder, 2008: 265).
Dari apa yang diamanatkan dalam
Undang-Undang Guru dan Dosen tentang profesi guru, kode etik dan sepuluh
kompetensi guru, kiranya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang diamanatkan
dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu, permasalahan utama adalah kepada
pihak pemerintah apakah komitmen untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan
kesejahteraan guru dapat direalisasikan.
Simpulan
Berdasarkan uraian tersebut di
atas, maka guru profesional menurut kitab suci Veda adalah mereka yang mampu
melaksanakan swadharmanya untuk membangun moralitas dan karakter peserta didik.
Pembangunan karakter merupakan tujuan dari pendidikan menurut kitab suci Veda
dan susastra Hindu yang sesungguhnya sejalan dengan tujuan yang terkandung
dalam UU Sisdiknas Tahun 2003, dan berkenaan dengan hal tersebut maka profesi
guru dapat ditingkatkan kualitasnya melalui kualifikasi, kompetensi, dan
sertifikasi.
DAFTAR PUSTAKA
Atlekar, G.S. 1987. Studies on Vàlmìki Ràmàyaóa, Poona, India: Bhandarkar Oriental Research Institute.
Bansi Pandit.2005. Pemikiran Hindu, Pokok-Pokok Pikiran Agama Hindu dan Filsafatnya.
Terjemahan dari The Hindu Mind oleh
IGA Dewi Paramita,S.S. Surabaya: Penerbit Paramita.
Donder, I Ketut, 2008. Àcàrya Sista, Guru dan Dosen yang Bijaksana: Perspektif Hindu. Kata
Pengantar Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D. Surabaya: Penerbit Paramita.
Satyavrata Siddhantalankar.1980. Exposition
of Vedic Thought. Delhi: Munshiram Manoharlal. ,
Titib, I
Made.1996. Veda, Sabda Suci
Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya:
Penerbit Paramita.
-------- 2003
UU No. 20 Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
-------- 2005
UU No. 14 Guru dan Dosen. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dikutip dari :
blog pribadi Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D