Selasa, 22 September 2015

GURU DAN TUGASNYA - Part 2



GURU: SEORANG PANDAI BESI

 
Ada seorang guru, Sang Wicaksana yang hendak memberikan pembekalan awal sebelum para calon siswanya itu belajar di pasraman beliau. Maka pada suatu perjamuan penyambutan, sang guru memberikan suatu pertanyaan kepada para calon siswanya. “Adakah di antara kalian semua yang tahu bagaimana caranya menajamkan besi?”, kata beliau. Kemudian ada 3 orang yang mengangkat tangan masing-masing dari kelas atas (keluarga kaya), kelas menengah (keluarga pedagang), dan kelas bawah (keluarga petani). Kemudian sang guru mempersilahkan mereka menjawabnya.

Yang dari keluarga kaya menjawab, dengan membiarkan besi begitu saja sampai menjadi karat karena ia pernah tertusuk karat sehingga ia tahu jelas karat itu tajam.
Yang dari keluarga pedagang menjawab, dengan mengasahnya terus menerus karena ia pernah melihat besi (pisau tumpul) yang diasah menjadi tajam.
Yang dari keluarga petani yang tetangganya adalah seorang pandai besi menjawab, besi harus melalui proses penempaan, kemudian diasah, baru menjadi tajam. 

Sang guru tersenyum lalu berkata membenarkan ketiga jawaban siswanya itu.

“Ketiga jawaban tersebut adalah benar, besi akan menjadi tajam dengan ketiga cara tersebut. Namun, tujuan pertanyaan itu bukan hanya untuk mencari cara bagaimana cara menajamkan besi, akan tetapi bagaimana agar tajam itu berguna bukan sekedar tajam.
1. Besi memang akan tajam jika dibiarkan menjadi karat, namun apakah karat itu berguna? Tidak, bahkan cendrung menyusahkan karena akan membuat sakit (infeksi tetanus) jika tertusuk. Belum lagi, setelah lama berkarat, besi akan cendrung menghilang dan kembali menjadi tanah.
2. Besi juga akan tajam jika terus menerus diasah, namun dalam jangka waktu berapa lama besi tersebut baru bisa tajam? Kalau besi yang sudah pipih dan siap pakai maka memang tidak akan butuh waktu lama untuk menajamkannya. Tapi bagaimana jika besi tersebut adalah besi gelondongan? Sampai kapan mau diasah agar bisa tajam?
3. Besi akan sangat tajam dan bisa tahan lama jika melalui proses penempaan. Setelah besi dipanaskan sampai membara maka besi tersebut akan menjadi lunak dan mudah ditempa, dibentuk sesuai dengan harapan. Setelah proses pembentukan, barulah besi yang berbentuk itu diasah, ditajamkan dengan pelan namun pasti pada kedua sisinya agar “bentuk” tajamnya seimbang sehingga akan mempermudah pengasahan jika besi itu tumpul lagi.”

Sang guru berhenti sejenak sambil memperhatikan siswanya yang mulai penasaran akan penjelasan gurunya. Mereka berpikir, pasti akan ada suatu makna di balik itu. Sang guru melanjutkan lagi wejangannya.

“Sama seperti kalian yang akan menjadi seorang guru kelak. Kalian bukan hanya akan menjadi pengajar dengan membagi ilmu yang kalian miliki kepada siswa-siswa kalian nantinya. Kalian itu juga seorang pendidik, seorang pembentuk karakter dari siswa kalian. Guru itu tugasnya berat, tidak sekedar berbagi ilmu tapi juga berbagi kebijaksanaan.

1. Tugas guru adalah menajamkan besi. Guru mengajarkan muridnya ilmu yang dimilikinya, membuat siswanya pinter secara teoritis dan praktik, membuat mereka berkompeten di bidangnya masing-masing.  Selain itu juga mereka juga ditempa, membentuk karakternya dengan baik: bertanggung jawab, setia, berani, jujur dan sebagainya dengan cara yang tegas.
Keras beda dengan tegas. Cara yang keras cendrung kasar tanpa dasar namun tegas adalah sesuai dengan aturan, memperhitungan/melibatkan kebaikan di dalamnya. Dalam mengajar guru harus tegas dan tidak ‘mbelo’/lembek, tidak terlalu memberikan banyak kebijakan karena jika kebijakan berlebihan akan menjadi kelonggaran dan itu tidak baik. Hanya akan memanjakan siswa dengan kebebasan yang ‘hampir’ tak terkontrol. Guru itu harus tegas, berani dan disiplin agar dicontoh oleh siswanya.

2. Guru juga harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter siswanya. Dengan begitu banyak kepala (siswa) maka tentunya banyak juga bentuk/jenis karakter mereka. Guru harus mampu seperti air, menyesuaikan diri dengan setiap bentuk karakter siswanya. Guru harus tahu bagaimana mengimbangi, menangani sikap dari masing-masing karakter tersebut tanpa membuat siswa itu “panas”, tapi mengimbangi dengan dingin dan penuh kesabaran. Orang yang dalam tahap belajar (khususnya remaja) memiliki “api” yang begitu besar dan panas di dalam dirinya, yang hendak keluar dan membakar semua yang ada disekitarnya. Dengan adanya kesabaran dan pengetahuan karakter maka guru akan mampu menangani setiap siswa dengan baik, sabar dan bijaksana.

3. Guru harus luwes, tidak mudah terprovokasi oleh kelakuan siswa. Guru harus bisa “menguliti egonya” sebelum menangani ego siswanya, seperti bambu yang perlu dikuliti dulu sebelum bisa menjadi tali yang bagus dan lemes. Jika seorang guru egois dan mudah marah, maka proses belajar-mengajar tidak akan dapat berjalan dengan baik. Guru haruslah penyabar dan tekun dalam menghadapi siswanya, memberikan perhatian penuh, serta siap memberikan perulangan pengajaran jika dibutuhkan. Karena tidak semua siswa bisa menerima dengan baik pengetahuan yang diajarkan dalam satu kali pengajaran. Mungkin perlu dua atau lebih kali pengulangan agar semua materi dapat tersampaikan.

4. Guru harus menjadi “gelas setengah kosong”, hal ini berarti guru harus terus belajar hal yang baru yang sesuai dengan perkembangan jaman, mengisi dirinya dengan ilmu-ilmu baru baik sesuai dengan bidangnya maupun yang tidak sesuai dengan bidangnya. Karena terkadang 1 bidang ilmu memerlukan bidang pengetahuan yang lainnya. Semisalkan pengetahuan tentang komputer yang bisa terintegrasi dengan bidang pengetahuan yang lainnya. Karena jaman sekarang teknologi sudah maju dan segalanya hampir dapat diselesaikan dengan komputerisasi. Oleh karena itu, untuk membantu kegiatan pembelajaran dan yang berhubungan dengan tugas guru, maka guru perlu kiranya mempelajari komputer. Misalnya untuk presentasi, pengolahan nilai, membuat modul dan sebagainya.

Selain itu pula, banyak hal yang harus dikuasai oleh seorang guru, seperti teknik penguasaan kelas, prinsip kepemimpinan (-kelas) yang kiranya sudah mereka pelajari ketika masih dalam tahap pendidikan keguruan. Belum lagi tugas-tugas administratif yang memerlukan daya pikir dan waktu lebih untuk hal tersebut. Sungguh berat tugas guru..

Masih berpikir jadi guru itu mudah?

Sumber : Google.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar