GURU: SEORANG PANDAI BESI
Ada seorang guru, Sang Wicaksana yang hendak memberikan pembekalan awal
sebelum para calon siswanya itu belajar di pasraman beliau. Maka pada suatu
perjamuan penyambutan, sang guru memberikan suatu pertanyaan kepada para calon
siswanya. “Adakah di antara kalian semua yang tahu bagaimana caranya menajamkan
besi?”, kata beliau. Kemudian ada 3 orang yang mengangkat tangan masing-masing
dari kelas atas (keluarga kaya), kelas menengah (keluarga pedagang), dan kelas
bawah (keluarga petani). Kemudian sang guru mempersilahkan mereka menjawabnya.
Yang dari keluarga kaya menjawab, dengan membiarkan besi begitu saja
sampai menjadi karat karena ia pernah tertusuk karat sehingga ia tahu jelas
karat itu tajam.
Yang dari keluarga pedagang menjawab, dengan mengasahnya terus menerus
karena ia pernah melihat besi (pisau tumpul) yang diasah menjadi tajam.
Yang dari keluarga petani yang tetangganya adalah seorang pandai besi menjawab, besi harus melalui proses
penempaan, kemudian diasah, baru menjadi tajam.
Sang guru tersenyum lalu berkata membenarkan ketiga jawaban siswanya
itu.
“Ketiga jawaban tersebut adalah benar, besi akan menjadi tajam dengan
ketiga cara tersebut. Namun, tujuan pertanyaan itu bukan hanya untuk mencari
cara bagaimana cara menajamkan besi, akan tetapi bagaimana agar tajam itu
berguna bukan sekedar tajam.
1. Besi memang akan tajam jika dibiarkan menjadi karat, namun apakah
karat itu berguna? Tidak, bahkan cendrung menyusahkan karena akan membuat sakit
(infeksi tetanus) jika tertusuk. Belum lagi, setelah lama berkarat, besi akan
cendrung menghilang dan kembali menjadi tanah.
2. Besi juga akan tajam jika terus menerus diasah, namun dalam jangka
waktu berapa lama besi tersebut baru bisa tajam? Kalau besi yang sudah pipih
dan siap pakai maka memang tidak akan butuh waktu lama untuk menajamkannya.
Tapi bagaimana jika besi tersebut adalah besi gelondongan? Sampai kapan mau
diasah agar bisa tajam?
3. Besi akan sangat tajam dan bisa tahan lama jika melalui proses penempaan. Setelah besi dipanaskan sampai membara maka besi tersebut akan menjadi lunak dan
mudah ditempa, dibentuk sesuai dengan harapan. Setelah proses pembentukan,
barulah besi yang berbentuk itu diasah, ditajamkan dengan pelan namun pasti
pada kedua sisinya agar “bentuk” tajamnya seimbang sehingga akan mempermudah pengasahan jika besi itu tumpul lagi.”
Sang guru berhenti sejenak sambil memperhatikan siswanya yang mulai
penasaran akan penjelasan gurunya. Mereka berpikir, pasti akan ada suatu makna
di balik itu. Sang guru melanjutkan lagi wejangannya.
“Sama seperti kalian yang akan menjadi seorang guru kelak. Kalian
bukan hanya akan menjadi pengajar dengan membagi ilmu yang kalian miliki kepada
siswa-siswa kalian nantinya. Kalian itu juga seorang pendidik, seorang
pembentuk karakter dari siswa kalian. Guru itu tugasnya berat, tidak sekedar
berbagi ilmu tapi juga berbagi kebijaksanaan.
1. Tugas guru adalah menajamkan besi. Guru mengajarkan muridnya ilmu
yang dimilikinya, membuat siswanya pinter secara teoritis dan praktik, membuat
mereka berkompeten di bidangnya masing-masing.
Selain itu juga mereka juga ditempa, membentuk karakternya dengan baik:
bertanggung jawab, setia, berani, jujur dan sebagainya dengan cara yang tegas.
Keras beda dengan tegas. Cara yang keras cendrung kasar tanpa dasar namun
tegas adalah sesuai dengan aturan, memperhitungan/melibatkan kebaikan di
dalamnya. Dalam mengajar guru harus tegas dan tidak ‘mbelo’/lembek, tidak
terlalu memberikan banyak kebijakan karena jika kebijakan berlebihan akan
menjadi kelonggaran dan itu tidak baik. Hanya akan memanjakan siswa dengan
kebebasan yang ‘hampir’ tak terkontrol. Guru itu harus tegas, berani dan
disiplin agar dicontoh oleh siswanya.
2. Guru juga harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter siswanya.
Dengan begitu banyak kepala (siswa) maka tentunya banyak juga bentuk/jenis
karakter mereka. Guru harus mampu seperti air, menyesuaikan diri dengan setiap
bentuk karakter siswanya. Guru harus tahu bagaimana mengimbangi, menangani
sikap dari masing-masing karakter tersebut tanpa membuat siswa itu “panas”,
tapi mengimbangi dengan dingin dan penuh kesabaran. Orang yang dalam tahap
belajar (khususnya remaja) memiliki “api” yang begitu besar dan panas di dalam
dirinya, yang hendak keluar dan membakar semua yang ada disekitarnya. Dengan
adanya kesabaran dan pengetahuan karakter maka guru akan mampu menangani setiap
siswa dengan baik, sabar dan bijaksana.
3. Guru harus luwes, tidak mudah terprovokasi oleh kelakuan siswa. Guru
harus bisa “menguliti egonya” sebelum menangani ego siswanya, seperti bambu
yang perlu dikuliti dulu sebelum bisa menjadi tali yang bagus dan lemes. Jika seorang
guru egois dan mudah marah, maka proses belajar-mengajar tidak akan dapat
berjalan dengan baik. Guru haruslah penyabar dan tekun dalam menghadapi
siswanya, memberikan perhatian penuh, serta siap memberikan perulangan pengajaran
jika dibutuhkan. Karena tidak semua siswa bisa menerima dengan baik pengetahuan
yang diajarkan dalam satu kali pengajaran. Mungkin perlu dua atau lebih kali
pengulangan agar semua materi dapat tersampaikan.
4. Guru harus menjadi “gelas setengah kosong”, hal ini berarti guru
harus terus belajar hal yang baru yang sesuai dengan perkembangan jaman, mengisi
dirinya dengan ilmu-ilmu baru baik sesuai dengan bidangnya maupun yang tidak
sesuai dengan bidangnya. Karena terkadang 1 bidang ilmu memerlukan bidang pengetahuan
yang lainnya. Semisalkan pengetahuan tentang komputer yang bisa terintegrasi
dengan bidang pengetahuan yang lainnya. Karena jaman sekarang teknologi sudah
maju dan segalanya hampir dapat diselesaikan dengan komputerisasi. Oleh karena
itu, untuk membantu kegiatan pembelajaran dan yang berhubungan dengan tugas
guru, maka guru perlu kiranya mempelajari komputer. Misalnya untuk presentasi,
pengolahan nilai, membuat modul dan sebagainya.
Selain itu pula, banyak hal yang harus dikuasai oleh seorang guru,
seperti teknik penguasaan kelas, prinsip kepemimpinan (-kelas) yang kiranya sudah mereka pelajari ketika masih dalam tahap pendidikan keguruan. Belum lagi
tugas-tugas administratif yang memerlukan daya pikir dan waktu lebih untuk hal
tersebut. Sungguh berat tugas guru..
Masih berpikir jadi guru itu mudah?
Sumber : Google.co.id


Tidak ada komentar:
Posting Komentar