Selasa, 22 September 2015

Cara menjadi Siswa Mulia

Sisya Sesana¸ Cara menjadi Siswa Mulia dalam Itihasa


Apabila ditelisik secara mendalam dalam, sistem pendidikan Hindu sarat menekankan pendidikan nilai karakter yang berorientasi pada proses. Hal ini sangat menarik untuk diungkapkan kembali di tengah-tengah pergeseran orientasi siswa dalam mencapai tujuan pendidikan. Karena keberhasilan seorang siswa dalam pembelajaran tergantung dari proses kematangannya dalam belajar dan latihan. Disertai pula dengan kesuksesannya menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh gurunya yang dilandasi oleh nilai etika seorang siswa terhadap gurunya.

Di dalam Adiparwa dapat diambil contoh kisah proses belajar murid Begawan Domya, yaitu Sang Utamayu, Sang Arunika dan Sang Weda. Demikian pula kisah Sang Bima ketika ditugaskan oleh gurunya, Bhagawan Drona, untuk mencari tirta prawidi.

Beberapa para ahli telah merumuskan mengenai tafsiran tentang “belajar”. Salah satunya adalah modifikasi atau memperteguh kelakukan melalui pengalaman (learning is defined as the modification or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu pengusahan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuaan. Lebih jauh dijelaskan, belajar adalah perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Secara logika proses yang baik akan menghasilkan hasil yang baik. Jika ada proses yang tidak “baik” bisa menghasilkan hasil yang baik tentu merupakan suatu pristiwa aneh bin ajaib

Secara praksis apabila kembali pada sastra Hindu seperti kisah ujian yang dilakukan oleh ketiga murid Bhadawan Dhomya. Dengan berlandaskan rasa bhakti terhadap guru, giat belajar pantang menyerah dan berputus asa serta rasa tanggung jawab, dicapailah keberhasilan dan berhak menerima penghargaan atas keberhasilannya. Demikian pula rasa pantang menyerah dan putus asa menyebabkan mereka memiliki kedyatmikan (pengetahuan). Hal ini pula dialami oleh Sang Bima murid dari Bhagawan Drona.

Apabila disimak dari kisah Sang Arunika, sebelum dianugrahi Dharma Castra, ia diberi tugas untuk menggarap sawah. Dengan dilandasi rasa berbhakti terhadap Sang Guru, ia mengerjakan tugas itu dengan senang hati. Tantangan berat ia alami. Ketika sawah telah digarap, benih padi telah ditanam, di tengah malam yang gelap gulita datanglah hujan lebat, disertai dengan angin kencang. Tersontak ia terbangun dari tidurnya dan berlarian menuju sawah. Air bah yang besar telah menjebol pematang sawah dan merendam benih padi yang baru ditanamnya. Namun ia tidak putus asa dan menyerah begitu saja. Berulangkali telah dibendung, namun semua itu sia-sia. Hingga akhirnya ia harus merebahkan dirinya di pematang untuk membendung air, sehingga benih padinya terhidar dari rendaman air. Hal ini diketahui oleh Gurunya yang membuat gurunya kagum akan usahanya, sehingga ia dianugrahi mantra yang dapat memenuhi segala keinginannya.

Demikian pula Sang Utamanyu yang diberikan tugas untuk mengembala lembu, juga mengalami proses ujian yang berat. Bukan saja harus menahan rasa haus dan lapar, hingga mengalami kebutaan dan tercemplung dalam sumur tua. Namun berkat rasa bhakti, kejujuran, dan pantang menyerah dalam melaksanakan tugasnya, membuat Bhagawan Dhomya berkenan atas prilaku sang Utamanyu dan menyembuhkan kembali kebutaannya. Dan ia pun dianugrahi mantra acwina mantra, yaitu mantra untuk dewa Aswini sebagai dewanya obat-obatan. Atas anugrah itu, ia menyandang setatus sebagai seorang tabib yang hebat.

Sang Weda, murid ketiga dari Bhagawan Dhomya mendapatkan tugas sebagai juru masak. Masakannya selalu menyenangkan hati gurunya. Sebagai seorang siswa yang berbakti ia tidak makan sebelum gurunya makan. Tanpa halangan yang berarti, tantangan terlewati dengan lancar. Ia pun dianugrahi mantra sakti yang dapat memenuhi segala keinginannya.

Ujian serupa juga dialami oleh Sang Bima ketika ia ”diuji” oleh gurunya, Bhagawan Drona. Ia ditugaskan untuk mencari Tirta Prawidi, yang tiada lain adalah akal-akalan Bhagawan Drona untuk menyingkirkan Bima. Namun, dengan penuh rasa bhakti, sedikit pun tidak ada kecurigaan terlintas dalam pikirannya. Berbagai cobaan dan tantangan ia hadapi dalam proses pencarian tirta tersebut. Namun semua proses itu telah memberikan anugrah kekuatan baginya. Seperti keberhasilannya membunuh dan membebaskan Rukmuka dan Rukmakala dari kutukan yang tiada lain adalah penjelmaan dewa. Atas jasanya itu ia dianugrahi ikat pinggang poleng. Demikian pula anugrah berupa jala sengara yang didapat dari Dewi Maheswari yang telah dibebaskan dari kutukan dalam wujud naga yang besar yang mampu dikalahkan oleh Bima. Namun cobaan tidak berhenti sampai di situ. Drona menyuruh Bima mencari Tirta prawidi ke tengah Samudra. Ia bertemu dengan naga Nawatnawa yang berhasil dikalahkan hingga ia pingsan dan menyebabkannya terdampar di sebuah pulau karang. Ketika tersadar ia terbangun dihadapannya seorang manusia yang sangat kecil yang tiada lain adalah Dewa Ruci, serta menyuruhnya masuk ke dalam perutnya. Hingga akhirnya ia mendengarkan suara gaib dan mengajarkan ilmu kediyatmikan. Dan akhirnya Bima dihadiahi cupu yang tertutup untuk diserahkan kepada Drona.

Tidak Jujur Ilmu Hancur

Kita masih ingat cerita Bambang Ekalawya dalam Adi Parwa. Sosok pemuda yang hebat bahkan kehebatannya bisa menandingi kehebatan Sang Arjuna. Ia memiliki keuletan, disiplin dan memiliki motivasi yang tinggi untuk bisa menguasai ilmu memanah. Namun setelah semua yang, semua sirna hilang, karena ia tidak mendapat restu dari Drona. Dengan demikian, secara etika Ekalawya adalah pencuri (nyolong sastra) ilmu pengetahuan dari Drona, karena telah menjadikan Drona sebagai guru imajiner tanpa seijin Drona. Akhirnya segala sesuatu yang telah diraihnya secara susah payah sirna hilang seiring dengan Guru daksina yang ia berikan kepada Bhagawan Drona.

Hal serupa terjadi pula pada Rahdeya, setelah ilmu yang ia raih dengan susah payah ternyata tidak bisa berguna, pada saat ia butuhkan. Tidak cukup mengandalkan semangat dan keinginan belajar yang tinggi untuk menjadi sukses, namun lebih penting lagi bagaimana etika sebagai seorang siswa perlu dibangun untuk meraih sukses. Hal inilah yang dilanggar oleh Rahdeya. Semangat dan keinginan belajar yang tinggi, bisa diterima menjadi murid, membuatnya harus berdusta kepada Gurunya Parasu Rama. Hingga anugrah terakhir dalam proses belajarnya, ia dianugrahi ilmu pamungkas yang bernama “Brahmastra”. Memang sangat sulit menutupi kebohongan, bak menutupi asap ia akan keluar juga. Kebenaran akan menentukan jalannya sendiri. Kebohongan Rahdeya bahwa ia bukan dari golongan Brahmana, namun dari golongan kesatria ketahuan juga oleh Gurunya. Saat Prasu Rama dan Rahdeya duduk di taman. Suasana yang menyejukan diterpa angin sumilir membuat sang Guru mengantuk dan tertidur di atas pangkuan Rahdeya. Ada seekor binatang jenis lintah menggigit paha Rahdeya hingga mengeluarkan darah. Namun dengan rasa takut untuk membangunkan sang Guru, ia pun berjuang menahan sakit atas gigitan binatang itu. Akhirnya sang Guru terbangun dan melihat luka besar pada paha Rahdeya. Gurunya pun heran luka sebesar itu Rahdeya mampu menahannya, yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh golongan kesatrya. Prasu Rama meragukan pengakuan muridnya yang mengaku dari golongan Brahmana.

Setelah ditanya berulang kali Rahdeya pun mengaku dan menuturkan riwayatnya mengapa ia berdusta. Namun kebohongan Rahdeya membuat sang Guru marah. Sungguhnya tidak pantas dilakukan seorang murid yang ingin mendapatkan pengetahuan. Hingga akhirnya kemarahannya memuncak seraya mengutuk Rahdeya agar Brahmastra yang diajarkannya tidak akan berguna pada saat ia perlukan. Ia pun lantas mengusir Rahdeya dari pesraman.
Akibat ketidakjujurannya untuk mendapatkan ilmu, ia tidak bisa menggunakan ilmu pamungkas Brahmastra pada saat melawan Arjuna. Ketika perang tanding itu tiba, ia melupakan mantra yang harus ia ucapkan. Ini karena kutukan gurunya. Karna harus roboh di ujung panah Arjuna pada saat pertempuran tersebut. Ini memberi pesan, bahwa karakter mulia lebih penting dari kepintaran intelek maupun keterampilan. Kehebatan ilmu yang dimiliki tidak memiliki makna apa-apa, ia akan hancur sebagaimana robohnya Sang Karna yang mahir ilmu panah saat bertempur dengan Arjuna. 



Sumber : Majalah Hindu Raditya

GURU DAN TUGASNYA - Part 2



GURU: SEORANG PANDAI BESI

 
Ada seorang guru, Sang Wicaksana yang hendak memberikan pembekalan awal sebelum para calon siswanya itu belajar di pasraman beliau. Maka pada suatu perjamuan penyambutan, sang guru memberikan suatu pertanyaan kepada para calon siswanya. “Adakah di antara kalian semua yang tahu bagaimana caranya menajamkan besi?”, kata beliau. Kemudian ada 3 orang yang mengangkat tangan masing-masing dari kelas atas (keluarga kaya), kelas menengah (keluarga pedagang), dan kelas bawah (keluarga petani). Kemudian sang guru mempersilahkan mereka menjawabnya.

Yang dari keluarga kaya menjawab, dengan membiarkan besi begitu saja sampai menjadi karat karena ia pernah tertusuk karat sehingga ia tahu jelas karat itu tajam.
Yang dari keluarga pedagang menjawab, dengan mengasahnya terus menerus karena ia pernah melihat besi (pisau tumpul) yang diasah menjadi tajam.
Yang dari keluarga petani yang tetangganya adalah seorang pandai besi menjawab, besi harus melalui proses penempaan, kemudian diasah, baru menjadi tajam. 

Sang guru tersenyum lalu berkata membenarkan ketiga jawaban siswanya itu.

“Ketiga jawaban tersebut adalah benar, besi akan menjadi tajam dengan ketiga cara tersebut. Namun, tujuan pertanyaan itu bukan hanya untuk mencari cara bagaimana cara menajamkan besi, akan tetapi bagaimana agar tajam itu berguna bukan sekedar tajam.
1. Besi memang akan tajam jika dibiarkan menjadi karat, namun apakah karat itu berguna? Tidak, bahkan cendrung menyusahkan karena akan membuat sakit (infeksi tetanus) jika tertusuk. Belum lagi, setelah lama berkarat, besi akan cendrung menghilang dan kembali menjadi tanah.
2. Besi juga akan tajam jika terus menerus diasah, namun dalam jangka waktu berapa lama besi tersebut baru bisa tajam? Kalau besi yang sudah pipih dan siap pakai maka memang tidak akan butuh waktu lama untuk menajamkannya. Tapi bagaimana jika besi tersebut adalah besi gelondongan? Sampai kapan mau diasah agar bisa tajam?
3. Besi akan sangat tajam dan bisa tahan lama jika melalui proses penempaan. Setelah besi dipanaskan sampai membara maka besi tersebut akan menjadi lunak dan mudah ditempa, dibentuk sesuai dengan harapan. Setelah proses pembentukan, barulah besi yang berbentuk itu diasah, ditajamkan dengan pelan namun pasti pada kedua sisinya agar “bentuk” tajamnya seimbang sehingga akan mempermudah pengasahan jika besi itu tumpul lagi.”

Sang guru berhenti sejenak sambil memperhatikan siswanya yang mulai penasaran akan penjelasan gurunya. Mereka berpikir, pasti akan ada suatu makna di balik itu. Sang guru melanjutkan lagi wejangannya.

“Sama seperti kalian yang akan menjadi seorang guru kelak. Kalian bukan hanya akan menjadi pengajar dengan membagi ilmu yang kalian miliki kepada siswa-siswa kalian nantinya. Kalian itu juga seorang pendidik, seorang pembentuk karakter dari siswa kalian. Guru itu tugasnya berat, tidak sekedar berbagi ilmu tapi juga berbagi kebijaksanaan.

1. Tugas guru adalah menajamkan besi. Guru mengajarkan muridnya ilmu yang dimilikinya, membuat siswanya pinter secara teoritis dan praktik, membuat mereka berkompeten di bidangnya masing-masing.  Selain itu juga mereka juga ditempa, membentuk karakternya dengan baik: bertanggung jawab, setia, berani, jujur dan sebagainya dengan cara yang tegas.
Keras beda dengan tegas. Cara yang keras cendrung kasar tanpa dasar namun tegas adalah sesuai dengan aturan, memperhitungan/melibatkan kebaikan di dalamnya. Dalam mengajar guru harus tegas dan tidak ‘mbelo’/lembek, tidak terlalu memberikan banyak kebijakan karena jika kebijakan berlebihan akan menjadi kelonggaran dan itu tidak baik. Hanya akan memanjakan siswa dengan kebebasan yang ‘hampir’ tak terkontrol. Guru itu harus tegas, berani dan disiplin agar dicontoh oleh siswanya.

2. Guru juga harus bisa menyesuaikan diri dengan karakter siswanya. Dengan begitu banyak kepala (siswa) maka tentunya banyak juga bentuk/jenis karakter mereka. Guru harus mampu seperti air, menyesuaikan diri dengan setiap bentuk karakter siswanya. Guru harus tahu bagaimana mengimbangi, menangani sikap dari masing-masing karakter tersebut tanpa membuat siswa itu “panas”, tapi mengimbangi dengan dingin dan penuh kesabaran. Orang yang dalam tahap belajar (khususnya remaja) memiliki “api” yang begitu besar dan panas di dalam dirinya, yang hendak keluar dan membakar semua yang ada disekitarnya. Dengan adanya kesabaran dan pengetahuan karakter maka guru akan mampu menangani setiap siswa dengan baik, sabar dan bijaksana.

3. Guru harus luwes, tidak mudah terprovokasi oleh kelakuan siswa. Guru harus bisa “menguliti egonya” sebelum menangani ego siswanya, seperti bambu yang perlu dikuliti dulu sebelum bisa menjadi tali yang bagus dan lemes. Jika seorang guru egois dan mudah marah, maka proses belajar-mengajar tidak akan dapat berjalan dengan baik. Guru haruslah penyabar dan tekun dalam menghadapi siswanya, memberikan perhatian penuh, serta siap memberikan perulangan pengajaran jika dibutuhkan. Karena tidak semua siswa bisa menerima dengan baik pengetahuan yang diajarkan dalam satu kali pengajaran. Mungkin perlu dua atau lebih kali pengulangan agar semua materi dapat tersampaikan.

4. Guru harus menjadi “gelas setengah kosong”, hal ini berarti guru harus terus belajar hal yang baru yang sesuai dengan perkembangan jaman, mengisi dirinya dengan ilmu-ilmu baru baik sesuai dengan bidangnya maupun yang tidak sesuai dengan bidangnya. Karena terkadang 1 bidang ilmu memerlukan bidang pengetahuan yang lainnya. Semisalkan pengetahuan tentang komputer yang bisa terintegrasi dengan bidang pengetahuan yang lainnya. Karena jaman sekarang teknologi sudah maju dan segalanya hampir dapat diselesaikan dengan komputerisasi. Oleh karena itu, untuk membantu kegiatan pembelajaran dan yang berhubungan dengan tugas guru, maka guru perlu kiranya mempelajari komputer. Misalnya untuk presentasi, pengolahan nilai, membuat modul dan sebagainya.

Selain itu pula, banyak hal yang harus dikuasai oleh seorang guru, seperti teknik penguasaan kelas, prinsip kepemimpinan (-kelas) yang kiranya sudah mereka pelajari ketika masih dalam tahap pendidikan keguruan. Belum lagi tugas-tugas administratif yang memerlukan daya pikir dan waktu lebih untuk hal tersebut. Sungguh berat tugas guru..

Masih berpikir jadi guru itu mudah?

Sumber : Google.co.id

GURU DAN TUGASNYA - Part 1


GURU PROFESIONAL

Perspektif Agama Hindu

Para guru adalah para penyebar (penerus) kebenaran, para orator yang cemerlang dan suci bagaikan memiliki tubuh kedewaan
Rgveda X. 65. 7


Pendahuluan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) sebagai penjabaran Undang-Undang R.I. Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), Undang-Undang R.I. Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah R.I. Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) maka semua hal tentang penyelenggaraan pendidikan, termasuk pendidikan dasar, menengah, dan tinggi harus mengacu pada SNP tersebut. SNP berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. SNP mencakup 8 standar minimal, yang terdiri atas: (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Mutu Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Pengelolaan, (6) Standar Pembiayaan, (7) Sarana dan prasarana, (8) Standar Penilaian Pendidikan.

Guru termasuk salah satu komponen yang sangat penting dalam SNP tersebut, oleh karena itu peningkatan kualifikasi guru diarahkan menjadi guru yang profesional sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang R.I. Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen di atas. Sehubungan dengan hal tersebut, maka dalam tulisan ini dibahas bagaimana seorang guru yang profesional menurut kitab suci Veda dan susastra Hindu, mengingat pendidikan menurut ajaran Agama Hindu memegang peranan yang sangat penting yang mengantarkan umat manusia mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan yang populer dikenal dengan istilah jagadhita dan mokûa.

Di dalam Veda dan susastra Hindu sangat banyak digambarkan dan diulas bagaimana tugas dan kewajiban seorang guru, dan demikian besar peranan guru-guru rohani Hindu yang mengembangkan ajaran Agama Hindu yang dapat diwarisi dan digali dewasa ini, oleh karena itu dalam ajaran Agama Hindu seorang guru memiliki posisi sentral dan terhormat di tengah-tengah masyarakat. Di negara-negara maju pendidikan termasuk kualitas dan kesejahteraan guru selalu mendapatkan perhatian, hal ini dapat dibaca dari pengalaman bangsa-bangsa di dunia yang tingkat pendidikan demikian maju. Sebagai contoh Jepang yang pada masa Perang Dunia II kalah total menghadapi Sekutu, namun dalam waktu singkat mereka dapat mengejar ketertinggalannya. Disebutkan ketika Kaisar bertanya kepada Panglima Angkatan

-------------------------
* Makalah disampaikan pada acara Seminar Pendidikan diselenggarakan oleh badan Ekskutif Mahasiswa (BEM) Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar bertempat di Kampus Singaraja, pada hari Minggu, tanggal 24 Mei 2009.
** Prof. Dr I Made Titib, Ph.D, Guru Besar Fakultas Brahma Widya, Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, mantan Direktur Urusan Agama Hindu, Ditjen. Bimas Hindu dan Buddha, Departemen Agama R.I, mantan anggota TNI-AD, Ketua I Pengurus Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat, mantan anggota DPRD Bali (1997-1999), dan mantan Ketua Sekolah Tinggi Agama Hindu Denpasar. Kini Dekan Fakultas Brahma Widya (Fakultas Filsafat dan Teologi) Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar, dan Wakil Ketua Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat.
-------------------------

Bersenjata-Nya(guru), ia mendapat jawaban bahwa sangat banyak tentara yang gugur di medan perang dan Kaisar menanyakan kembali bagaimana halnya dengan para guru. Kaisar mendapat jawaban bahwa tidak ada guru yang gugur dalam pertempuran, spontan Kaisar menegaskan kalau guru bisa membuat tentara yang tangguh, tetapi tentara belum tentu mampu membuat guru yang profesional. Adapun makna dari ilustrasi ini adalah guru sangat berperanan dalam memajukan pendidikan di Jepang hingga negara ini mengalami kemajuan ilmu dan teknologi sejajar dan bahkan dalam hal tertentu lebih maju dengan negara-negara Eropa dan Amerika.

Guru menurut kitab suci Veda

Di dalam Bahasa Sanskerta terminologi guru mempunyai makna yang sangat luas, tidak hanya guru sebagai pendidik tetapi lebih dari hal itu adalah membebaskan kegelapan pikiran umat manusia, oleh karena itu, Tuhan Yang Maha Esa juga disebut guru dan bahkan mahaguru atau paramestiguru. Perhatikan mantra pemujaan yang tercantum dalam Gurugìtà 4 berikut.

Gurur brahmà gururviûóu gururdevo maheúvaraá,

Gurur sàkûat paraý brahmà tasmai úrigurave namaá.
Guru adalah Brahma, Guru adalah Viûóu, Guru adalah Úiva,
Guru adalah Brahman yang tertinggi, hamba bersujud kepada Guru.

Di dalam Veda, seseorang yang memberikan pendidikan disebut àcàrya. Nama lainnya adalah “adhyàpaka” yang juga berarti guru, di samping kata “guru” itu sendiri, sedang siswa (perubahan dari kata úiûya) disebut Brahmacàri, juga disebut “vidyàrti”, yang berarti yang mengejar dan mempelajari ilmu pengetahuan. Àcàrya berarti seseorang yang dianggap tidak hanya memberikan ilmu pengetahuannya secara teoritis kepada para siswa, tetapi juga memperbaiki karakter mereka. Pengertian àcàrya adalah: “àcàraý grahayatìti àcàryaá” yang berarti ia yang memberikan pendidikan karakter (seseorang). Dua hal penting dalam sistem pendidikan menurut Veda adalah brahmacarya dan àcàrya dan melalui kebersamaan keduanya seorang siswa dapat meningkatkan perbaikan moralitas dan karakternya.

Adalah tugas seorang guru, ketika seorang siswa menghadapnya, untuk meminta diajarkan kepadanya tentang kebenaran yang sesungguhnya yang ia ketahui (Muódaka Upaniûad I.2.13)., tanpa menyembunyikan sesuatu dari padanya, untuk sesuatu yang disembunyikan akan mengakibatkan kejatuhannya (Praúna Upaniûad VI.1). Kitab Taittirìya Àraóyaka (VII.4) menguraikan bahwa seorang guru mestinya mengajar siswanya dengan sepenuh hati dan jiwanya. Ia juga terikat, yang menurut Úatapatha Bràhmaóa (XIV.I.1.26.27) untuk menguraikan segala sesuatunya kepada para siswa, yang tinggal selama setahun penuh (saývatsara-vàsin). Seorang guru hendaknya cukup bebas, hal itu mestinya dipahami, untuk menurunkan pengetahuan kepada siswanya, yakni pengetahuan tentang segala sesuatu yang tidak setara. Satu catatan tentang kasus-kasus tertentu tentang proses belajar mengajar yang bersifat rahasia kepada orang tertentu.

Sistem pendidikan menurut Veda menggambarkan lembaga pendidikan sebagai “kula” atau “parivara” yang artinya keluarga yang bertanggung jawab untuk melahirkan putra yang suputra, karena kelahiran dari ibu, dipandang lebih rendah dipandingkan lahir dari kandungan pendidikan sastra (sebagai “dvija”, yang lahir ke dua kali). Tentang keakraban hubungan guru dan siswa sangat jelas digambarkan dalam mantra Atharvaveda (XI.3.5.3) yang menyatakan: àcàrya upanayamàno brahmacàrióàý kåóute garbhamantá/ seorang guru menuntun dan menerima siswa (Brahmacàri) seperti seorang anak dan melindunginya seperti seorang wanita hamil yang melindungi bayinya di dalam kandungan. Mantra Atharvaveda Kàóða XI. Sùkta terdiri dari 26 mantra menguraikan hubungan yang demikian akrab antara seorang guru dengan para siswanya, ia melindungi dengan penuh kasih sayang, memberikan pendidikan utamanya moralitas serta melakukan latihan-latihan rohani, Sàdhana atau Tapabrata. Menurut mantra Atharvaveda tersebut, seorang guru bukanlah semata-mata hanya seorang tenaga pengajar, tetapi ia juga menjadi pendidik atau ayah (seperti ayah kandung) dari para siswanya.

 Menurut kitab suci Veda, seharusnya setiap orang mampu menjadi guru atau berfungsi sebagai guru, memberikan pendidikan dan pengetahuan kepada yang bodoh, memajukan pengetahuan dan ketrampilan, memiliki kemampuan untuk membedakan yang baik dan buruk (bagi anak didik), memiliki wawasan ke depan, bijaksana, dan menjadi pemimpin masyarakat, penerus kebenaran, orator yang cemerlang, memajukan ilmu pengetahuan, mendidik moralitas anak didik, mengkondisikan agar anak didik mengikuti ajaran suci Veda, melindungi tradisi suci.

Kepala sekolah hendaknya menjadi contoh dalam kemuliaan moralitas, keras dan adil seperti Yama dan Varuóa, mendorong semangat hidup seperti Soma, sumber pengetahuan, mengembangkan keingin-tahuan, menanamkan pengetahuan, disiplin dan kepatuhan.

(1). Menanamkan pengetahuan kepada orang yang bodoh

Ketuý kåóvan aketave peúo maryà apeúase
sam uûadbhir ajàyathàá (Ågveda I. 6. 3).
‘Wahai umat manusia, engkau dilahirkan bersama fajar. Jadilah guru, berilah pengetahuan kepada orang-orang yang bodoh dan berilah kecantikan kepada orang-orang yang buruk rupa’

(2). Memajukan pengetahuan dan ketrampilan

Imàm dhiyaý úikûamàóasya deva
kratuý dakûaý varuóa saýúiúàdhi (Ågveda VIII. 42. 3).
‘Ya, Sang Hyang Varuna, majukanlah intelek para siswa dan tanamkanlah pengetahuan dan ketangkasan kepada mereka’

(3). Para guru adalah orang-orang yang mengetahui cahaya kebenaran (rahasia)

Gùðhaý jyotiá pitaro anvavindan (Ågveda VII. 76. 4).
‘Orang yang berpengetahuan tinggi memiliki cahaya yang rahasia’

(4). Sifat-sifat seorang sarjana/guru

Åsir vipro vicakûaóaá (Ågveda IX. 107. 7).
‘Seorang sarjana/guru memiliki pengetahuan yang dalam dan kekuatan membedakan yang baik dan buruk. Dia bijaksana’

Åûir vipraá pura-età janànàm (Ågveda IX. 87. 3)
‘Seorang guru adalah seorang yang memiliki wawasam ke depan, bijaksana dan raja rakyat’

Pàvakavarûóàh úucayo vipaúcitaá (Ågveda VIII. 3. 3)
‘Mereka memiliki kecemerlangan bagaikan kecemerlangannya seperti api, memiliki kekuatan membedakan yang baik dan buruk dan mereka bijaksana’

Divakûaso agnijihvà åtàvådhah (Ågveda X. 65. 7)
‘Para guru adalah para penyebar (penerus) kebe-naran, para orator yang cemerlang dan suci bagaikan memiliki tubuh kedewaan’

(5). Seorang sarjana mengetahui rahasia (makna) pembicaraan

Sa cid viveda nihitaý yad àsàm,
apìcyaý guhyaý nàma gonàm (Ågveda IX. 87. 3).
‘Seorang sarjana mengetahui rahasia (makna) pembicaraan’

(6). Milikilah mata yang ketiga (kemampuan memprediksi) dari pengetahuannya

Tåtìyena jyotiûà saý viúasva (Ågveda X. 56. 1).  
‘Wahai umat manusia, milikilah mata ketiga dari pengetahuan itu’

(7). Majukanlah pengetahuanmu dan intelekmu

Brahma jinvatam
uta jinvataý dhiyaá (Ågveda VIII. 35. 16).
‘Ya, para Dewa Asvin, semoga Engkau memajukan pengetahuan dan intelek kami’

(8). Seorang sarjana mampu mengendalikan indrianya

Akûàn aho nahyatanota somyàh (Ågveda X. 53. 7).
‘Wahai para sarjana yang mulia, kendalikanlah organ inderamu’

(9).   Tanamkanlah pengetahuan kepada orang-orang bodoh (tidak tahu)

....acetayad acito devo aryah.... (Ågveda VII.86.7).
‘Sang Hyang Varuòa yang mulia menanamkan pengetahuan kepada orang-orang bodoh (orang tidak tahu)’

(10). Para guru menyebarkan pengetahuan.

Jyotir yacchanti saviteva bàhù (Ågveda VII. 79. 2).
‘Mereka, bagaikan sinar matahari, menyebarkan terang (pengetahuan)’

(11). Bijaksanalah dan buatlah orang-orang lain menjadi mulia

Manur bhava, janayà daivyaý janam (Ågveda X. 53. 6).
‘Wahai manusia, bijaksanalah dan buatlah orang-
orang lain menjadi mulia’

(12). Ikutilah perintah-perintah (ajaran) Veda

Mantra-úrutyaý caràmasi (Ågveda X.134. 7).
‘Mari kita ikuti perintah-periratah (ajaran) Veda yang suci’

(13). Intelek menajamkan pengetahuan

Vajraý úiúàti dhiûaóà vareóyam (Ågveda VIII.15.7)
‘Intelek itu menajamkan pengetahuan yang berkilauan bagaikan kilat (halilintar)’

(14). Mereka adalah para pelindung tradisi yang suci

Jyotiûmatah patho rakûa dhiyà kåtàn (Ågveda X. 53. 6).
‘Semoga engkau melindungi tradisi-tradisi yang mulia yang didirikan (dilembagakan) oleh para leluhur’

(15). Dia menanamkan pengetahuan kepada siswa.

Yugàya vipra uparàya úikûan (Ågveda VII.87. 4)
‘Guru yang berpengetahuan tinggi menanamkan pengetahuan kepada para siswa yang mendekati dia’

(16). Dia menjelaskan rahasia-rahasia kitab suci

Vidvàn padasya guhyà na vocat (Ågveda VII.87.4).
‘Para sarjana dapat mengungkapkan berbagai rahasia (pengetahuan)’

(17). Pendaftaran siswa oleh kepala sekolah.

Àchàrya upanayamàno brahmacàrióaý kåóute
garbham antaá (Atharvaveda XI. 5. 3).
‘Seorang pendidik, pada waktu menerima seorang siswa, memberikan benang suci (upavita) kepadanya dan berada di bawah pengawasannya’

(18). Para guru sekolah memelihara keunggulan moral.

Àcàryo brahmacàrì brahmacàrì prajàpatiá (Atharvaveda XI. 5. 16)’
‘Kepala sekolah memelihara keunggulan moral seperti pencipta alam-semesta’

(19). Sifat-sifat seorang guru.

Àcàryo måtyur varuóaá soma oûadhayaá payaá (Atharvaveda XI. 5. 14).
‘Seorang guru hendaknya keras bagaikan Yama (dewa kematian), seorang hakim bagaikan dewa Varuna, pemberi semangat hidup bagaikan dewa Soma, penghancur sifat-sifat buruk bagaikan tumbuh- tumbuhan yang berkhasiat obat dan penyegar bagaikan air’

(20). Dia menanamkan pengetahuan

Àcàryas tatakûa nabhasì ubhe ime,
urvì gambhìre påthivìý divaý ca (Atharvaveda XI. 5. 8).
‘Kepala sekolah memperoleh pengetahuan tentang langit dan bumi serta menanamkannya kepada para siswa’

(21). Dia adalah perbendaharaan pengetahuan

Guhà nidhì nihitau bràhmaóasya (Atharvaveda XI. 5. 10).
‘Seorang guru menyimpan rahasia-rahasia langit
dan bumi di dalam pikirannya’

(22). Dia memajukan keingintahuan

Úikûànaraá pradivo akàmakarúanaá (Atharvaveda XX. 21. 2).
‘Seorang guru adalah orang yang memperoleh pencerahan dan dia tidak menutup keingintahuan para siswanya’

(23). Ajarlah para siswa supaya patuh.

Úikûeyam in-mahayate dive dive (Ågveda VII. 32. 19).
‘Kami harus mengajar para siswa supaya patuh setiap hari’

(24). Ajarlah siswa yang cerdas

Úikûeyam asmai ditseyaý úacìpate manìûióe (Ågveda VIII.14. 2).
‘Ya, Tuhan Yang Maha Esa, kami seharusnya mengajarkan dan menanamkan pengetahuan kepada siswa yang cerdas’
Demikian sabda Tuhan Yang Maha Esa di dalam kitab suci Veda tentang tugas dan
kewajiban seorang guru dalam melaksanakan tugasnya.

Guru menurut kitab-kitab susastra Hindu

Kitab-kitab susastra Hindu, khususnya kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa menduduki posisi sebagai salah satu sumber hukum Hindu, dalam hiarkhis sumber hukum Hindu, yakni sebagai kitab-kitab Úìla, yang menujukkan bahwa prilaku yang baik dari tokoh-tokoh dalam kitab-kitab Itihàsa dan Puràóa, khususnya kitab Ràmàyaóa dan Mahàbhàrata. Dalam kedua jenis kitab ini yang terdiri dari beberapa kàóða dan parva. Dalam Ràmàyaóa dijelaskan sebenarnya proses pendidikan telah berlangsung sejak Ràma dan adik-adiknya masih dalam kandungan ibunya.

Ketika usia memasuki pendidikan sistem Aúrama (ashram) Úrì Ràma beserta adik-adiknya mendapat pendidikan yang sangat baik di bawah guru Vaúiûþha. Berikut salah satu contoh keberhasilan pendidikan dalam Ràmàyaóa dapat diketengahkan sikap dan keperibadian Úrì Ràma yang digambarkan sebagai berikut:

Keperibadian Úrì Ràma dilukiskan dalam bentuk pertanyaan Mahàrûi Vàlmìki kepada Devarûi Nàrada, ketika suatu hari mengunjungi pertapaannya. Setelah dijamu sebagaimana mestinya, Mahàrûi Vàlmìki (Val.Ràm. I. 1. 2-4) mengajukan pertanyaan seperti tersebut di atas yang dirinci seperti berikut.

Ko’nvasmin sàýprataý loke guóavàn kaúca vìryavàn,
Dharmajñaúca kåtajñaúca satyavàkye dåþhavrataá.
Càrintreóa ca ko yuktaá sarvabhùteûu ko hita,
Vidvàn kaá kaá samarthaúca kaúcaikapriyaa darúanaá.
Àtmavàn ko jitakrodho dyutimàn ko’nasùyakaá,
Kasya viýbhyati devàúca jàtaroûasya saýyuge.

“Pada saat ini di dunia ini, siapakah yang sungguh-sungguh diberkati oleh karakter yang baik, yang berpendirian dan memiliki keberanian? Siapakah yang mengetahui apakah yang disebut Dharma, yang berbudhi pekerti luhur dan senantiasa berpegangan pada pandangan hidup yang benar, yang tahu berterima kasih dan senantiasa berbicara benar, dan senantiasa melakukan berbagai pantangan dalam kehidupannya?

Siapa yang selalu dituntun oleh kabajikan dan kebijasanaan dalam hidup, dan yang senantiasa memikirkan kebaikan untuk semua orang? Siapakah yang sangat mengusai dalam seluruh aspek berbagai ilmu pengetahuan, yang agung, berwibawa dan senantiasa membahagiakan setiap orang yang memandangnya?

Siapakah yang selalu mampu dan tegar mengendalikan indrianya, yang mampu menundukkan kemarahan, yang senantiasa memancarkan kasih sayang, yang tidak memiliki kecemburan dan kebencian kepada siapa pun? Ia yang ketika sangat marah di medan pertempuran mengakibatkan para Devatà pun ketakutan?”

Selanjutnya Mahàrûi Vàlmìki kepada Devarûi Nàrada: “Devarûi, anda selalu melakukan perjalanan di seluruh negara di dunia dan anda senantiasa berhubungan dengan tokoh-tokoh besar para pemimpinnya dan oleh karena itu, saya ingin mengetahuinya, siapa seseorang yang anda jumpai yang demikian dirakhmati seperti itu, mohon dijelaskan kepada saya pertanyaan-pertanyaan yang saya sampaikan seperti tersebut di atas!”

Devarûi Nàrada menjawab bahwa hal itu sangat sulit untuk menemukan seseorang yang memiliki kebajikan dan budhi pekerti yang luhur, yang senantiasa dibimbing oleh kebajikan, mengabdikan hidupnya kepada kebaikan untuk sesama makhluk hidup. Sangat jarang menemukan orang yang demikian mampu mengembangkan karakternya sangat mulia dan lebih jauh Devàrûi Nàrada menambahkan: Keperibadian seseorang yang demikian tinggi dan sangat luhur yang anda rindukan untuk dijawab sangat sulit ditemukan pada setiap masa. Namun, kita beruntung dan sangat berbahagia karena telah ada seorang yang memancarkan cahaya, seorang “Maryàdà Puruûottama”, seseorang yang terbaik di antara umat manusia yang memiliki semua kebajikan dan karakter yang sangat mulia yang sangat mungkin sulit dipenuhi oleh orang kebanyakan umumnya. Semua sifat-sifat ideal dapat ditemukan pada seseorang yang hatinya sangat lapang dan konsisten. Tingkah lakunya mencerminkan kebajikan dan budhi pekerti yang luhur. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa dan kemampuan untuk mengbunuh Raja Ràkûasa Ràvaóa, yang mencemaskan karena terror dan bencana bagi dunia, dan hanya ia yang mampu menciptakan kedamaian abadi di dunia ini. Ia meletakkan landasan “Ràmaràjya”, kebahagiaan yang ideal bagi seluruh masyarakat dan terpenuhi kesejahteraan hidupnya, lahir dan bathin. Seluruh masyarakat benar-benar merasakan kebahagiaan dan sangat puas dalam menikmati hidup dan kehidupan. Sekarang adalah Úrì Ràmachandra yang sedang dinobatkan sebagai raja Ayodhyà dengan permaisuri Dewi Sìtà, seorang wanita yang sangat mulia sejak kelahirannya yang senantiasa tegar dalam suka dan duka. Dengan kualifikasi karakter yang mulia itu, ia mengabdikan hidupnya untuk kebaikan dan kesejahteraan masyarakat dan bahkan mengorbankan kepentingannya pribadi karena lebih mengutamakan kepentingan masyarakat (Atlekar, 1987: 6).

Berdasarkan uraian tersebut karakter mulia atau budhi pekerti yang luhur dari Úrì Ràma telah jelas dari penggambaran terjemahan Ràmàyaóa di atas, baik melalui pertanyaan Mahàrûi Vàlmìki maupun jawab dari Devarûi Nàrada, dilukiskan dalam kalimat singkat “Maryàdàpuruûottama”, seseorang yang memiliki segala kebajikan, semua-sifat-sifat mulia yang memancar dari pribadi dan prilaku Úrì Ràma.

Úrì Ràma adalah personifikasi dari kebenaran, kemuliaan, kebaikan, kerendahan hati, dan keberanian. Sebagai seorang putra dari seorang raja yang mulia dan baik, ia mengorbankan kehidupan pribadinya untuk membantu ayahnya untuk memenuhi janjinya pada istrinya Kaikeyì (ibu tiri Úrì Ràma). Ia mengasingkan diri di hutan tanpa dendam atau kebencian kepada ibu tirinya itu, yang merupakan penyebab dari pembuangannya ke hutan. Úrì Ràma memberi nasehat pada adiknya, Bharata yang sangat marah kepada ibu kabdungnya (Kaikeyì) yang mengirim kakaknya Úrì Ràma untuk dibuang, untuk mencintai ibunya dan menghormatinya sebagai seorang ratu (Bansi, 2005:266).

Demikian karakter ideal Úrì Ràma di dalam Ràmàyaóa Sanskerta yang dapat diteladani sepanjang masa oleh umat manusia. Tingkah laku Úrì Ràma merupakan Úìla atau teladan yang dijadikan salah satu sumber dari beberapa sumber hukum Hindu. Hal yang sama dapat dijumpai dalam kitab Mahàbhàrata, khususnya keperibadian atau karakter dari Pañca Pàndhava, khususnya sifat-sifat Yudhiûþhira yang patut mendapat teladan seluruh umat manusia. Karakter mulia kedua tokoh di atas tidak terlepas dari peranan guru yang mendidiknya, di samping pendidikan orang tua atau keluarga dan pembentukan karakter dipengaruhi pula oleh lingkungan sosial dan budayanya.

Di dalam kitab susastra Hindu lainnya, khususnya dalam kitab-kitab Småti dapat dijumpai tentang tugas dan kewajiban seorang guru, di antaranya di dalam kitab Manavadharmaúàstra, juga dalam kitab-kitab Úàsana yang mengatur tentang kode etik seorang guru, seperti dapat dijumpai di Bali, dalam kitab Úìlakrama, Vratiúàsana, Úivaúàsana dan lain-lain. Baik di dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu di atas, tugas guru yang utama adalah mendidik untuk menjadi karakter yang baik terhadap anak didiknya.

Guru profesional menurut Undang-Undang Guru dan Dosen

Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen (UU No. 14 Tahun 2005, Bab III, Pasal 7) profesi guru atau guru yang profesional, termasuk juga dosen memiliki prinsip sebagai berikut.
  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme.
  2.  Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, dan akhlak mulia.
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang sesuai dengan bidang tugas.
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas.
  5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, dan
  9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Lebih jauh di dalam Bab IV Pasal 8 sampai Pasal 13 diatur tentang kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi guru. Selanjutnya Kode Etik Guru telah terlebih dahulu dirumuskan melalui Kongres PGRI XIII di Jakarta pada bulan November 1973 (Donder, 2008:260) dan kompetensi guru dikenal dengan sepuluh komptensi guru dirumuskan oleh Direktorat jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis, Departemen Diknas (Donder, 2008: 265).

Dari apa yang diamanatkan dalam Undang-Undang Guru dan Dosen tentang profesi guru, kode etik dan sepuluh kompetensi guru, kiranya tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang diamanatkan dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu, permasalahan utama adalah kepada pihak pemerintah apakah komitmen untuk memajukan pendidikan dan meningkatkan kesejahteraan guru dapat direalisasikan.

Simpulan

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka guru profesional menurut kitab suci Veda adalah mereka yang mampu melaksanakan swadharmanya untuk membangun moralitas dan karakter peserta didik. Pembangunan karakter merupakan tujuan dari pendidikan menurut kitab suci Veda dan susastra Hindu yang sesungguhnya sejalan dengan tujuan yang terkandung dalam UU Sisdiknas Tahun 2003, dan berkenaan dengan hal tersebut maka profesi guru dapat ditingkatkan kualitasnya melalui kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Atlekar, G.S. 1987. Studies on Vàlmìki Ràmàyaóa, Poona, India: Bhandarkar Oriental Research Institute.
Bansi Pandit.2005. Pemikiran Hindu, Pokok-Pokok Pikiran Agama Hindu dan Filsafatnya. Terjemahan dari The Hindu Mind oleh IGA Dewi Paramita,S.S. Surabaya: Penerbit Paramita.
Donder, I Ketut, 2008. Àcàrya Sista, Guru dan Dosen yang Bijaksana: Perspektif Hindu. Kata Pengantar Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D. Surabaya: Penerbit Paramita.
Satyavrata Siddhantalankar.1980. Exposition of Vedic Thought. Delhi: Munshiram Manoharlal. ,
Titib, I Made.1996. Veda, Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya: Penerbit Paramita.
-------- 2003 UU No. 20 Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
-------- 2005 UU No. 14 Guru dan Dosen. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Dikutip dari : blog pribadi Prof. Dr. I Made Titib, Ph.D