KELUHAN:
HANYALAH SEBUAH RESPON
(sebuah opini)
Pagi buta
aku sudah berangkat ke sawah buat mencangkul. Aku airi sawahku yang sudah mulai
mengering karena sudah lama aku tak dating ke sawah untuk bercocok tanam.
Alasannya simple : tidak sempat! Lalu aku mulai mencangkul, membuat selokan
kecil untuk mengurangi becek tempat bibit nanti. Tapi, tanahnya masih keras
sehingga cukup sulit untuk mencangkulnya. Hmmm…
Aku menjerit
,sakit! Secara tiba-tiba seekor “Babuang” (semut hitam yang biasa hidup di
pematang sawah) menggigitku. Aku tabok dia. Aku geram, jengah, marah dan
mendelik kearah semut itu dan hendak menginjaknya tapi dia malah tersenyum.
Aneh…
“Kenapa kau
tersenyum setelah berbuat jahat kepadaku. Akan kuinjak kau semut nakal”,
kataku.
Dia
menyahut, “Dari tadi aku panggil-panggil tapi kau tidak menyahut makanya aku
gigit. Aku hanya ingin bersua denganmu,kebetulan aku lewat di sawahmu ini.”
Aku urungkan
niatku menginjaknya. Aku duduk di pematang sambil mengurut kakiku yang perih
karena gigitan semut yang cengar cengir di sampingku. “Hmm.. ada apa?Sudah puas
menggigit?”, tanyaku ketus.
Dia
tersenyum. “Bukan begitu kawan(sok kenal sok deket aja nie semut). Aku hanya
tertarik dengan desahanmu, keluhanmu ketika kau mengetahui sawahmu yang sudah
banyak menelan biaya ini masih tak jadi apapun. Bahkan kini sudah mulai
mengeras lagi, sehingga hampir harus mengulang untuk menggemburkannya lagi.”
“Memangnya salah? Itu hakku kan buat mengeluh? Apa
rugimu?”, sahutku makin ketus.
Ia naik ke
atas ujung pangkal cangkulku lalu duduk di situ. Tersenyum lagi. Cengar cengir
lagi. Iya.. lagi!
“Keluhanmu
itu memang tak merugikan siapapun, itu adalah hakmu dan menurutku itu normal
dan sah-sah saja.”
Aku kernyitkan kening. Apa? Keluhanku adalah normal? Masak iya sih? Perasaan kalau orang mengeluh pasti sering disamakan dengan malas, cepat menyerah dan akhirnya di-bully atau diperhitungkan lagi kinerjanya (kalau di tempat kerja, istilah halus untuk kata ‘dipecat’). Lalu kenapa…
Aku kernyitkan kening. Apa? Keluhanku adalah normal? Masak iya sih? Perasaan kalau orang mengeluh pasti sering disamakan dengan malas, cepat menyerah dan akhirnya di-bully atau diperhitungkan lagi kinerjanya (kalau di tempat kerja, istilah halus untuk kata ‘dipecat’). Lalu kenapa…
“Terasa aneh
bagimu ya kalau aku bilang mengeluh itu normal?”, katanya memotong heran di
kepalaku.
“Tentu saja
aneh.”, sahutku cepat. ”Biasanya kalau orang yang mengeluh itu pasti akan dicap
jelek: malas lah, tidak semangat lah, gampang menyerah lah…bla bla… “
“Itu di
duniamu, tapi tidak di duniaku”, jawabnya sambil tersenyum. “Akan kukatakan
suatu rahasia padamu, kawan. Dengarlah baik-baik.”
Aku benahi tempat dudukku dan dengan agak heran dan penasaran aku mulai mendengarkannya.
Aku benahi tempat dudukku dan dengan agak heran dan penasaran aku mulai mendengarkannya.
“Kami bangsa
semut dikenal oleh bangsa manusia sebagai makhluk terrajin di dunia. Selalu
bekerja siang dan malam, tidak pernah mengeluh dan kuat dalam membawa makanan
ke sarang. Tapi… hello..!! Tidak pernah mengeluh? Memangnya kalian mengerti
bahasa kami sehingga kalian bisa bilang kami tidak pernah mengeluh? Itu kan
Cuma cerita inspiratif yang dikarang agar orang-orang termotivasi dan
bersemangat dalam bekerja. Tapi sebetulnya: “Kami
pernah mengeluh”, walau tidak sering.
Keluhan
adalah hal yang normal, seperti yang kubilang di awal tadi. 1)Keluhan
hanyalah sebuah respon untuk suatu ketidakberdayaan, ketidakmampuan akan
menangani sesuatu. Bukankah semua orang punya batasan akan kemampuan,
kekuatan dan pemikiran? Bukankah tidak setiap orang bisa mengungkapkan
keterbatasan itu dengan jujur terbuka
secara verbal kepada orang lain?
Di sinilah
bedanya ‘dunia sosial’mu dengan dunia sosial kami. 2)Kami
menanggapi keluhan dengan positif bukan dengan cara yang negatif, tidak
seperti duniamu yang salah tangkap dalam merespon setiap keluhan itu.
Mengingat akan keterbatasan dalam setiap individu, kami dibedakan dalam tugas-tugas kami walau kami dalam 1 jenis kelompok yaitu pekerja, bahkan juga untuk para pejantan. Kami ‘disortir’ menurut kemampuan dan minat kami: ada yang ditempatkan di bagian mengurus ratu, mengurus telur, mengurus stok makanan, mengurus/membuat sarang, mencari makanan, dan sebagainya. Awalnya kami bekerja menurut minat kami, karena minat akan membuat orang termotivasi. Tapi seiring waktu, pasti akan ada saja yang mencapai batas minatnya yang terbentur dengan batas kemampuannya. Bisa ditebak: keluhan, yaa.. keluhan. Itulah yang akan mereka keluhkan karena minat mereka saja tak sanggup untuk membuat mereka bertahan. Harus ada juga kemampuan dalam mendukung pekerjaannya. Karena itu, kemudian kami dilihat dari kemampuan kami dan ditempatkan sesuai dengan kemampuan kami tersebut.
Apakah tidak
akan ada keluhan berikutnya jika hanya ada kemampuan tapi tidak ada minat?
Solusinya adalah : nyaman dalam bekerja. Meski tidak ada minat, tapi jika dalam
bekerja, kami bisa menyelesaikan dengan baik sesuai dengan kemampuan, lalu
suasana bekerjanya nyaman aman, tidak bikin “gerah” maka otomatis minat bisa
dimunculkan. Kemampuan itu sudah kami miliki sejak lahir. Bakat, mungkin itu
istilah kalian untuk itu. Tidak sedikit bukan orang berbakat tidak sesuai
dengan bakat/kemampuannya itu bukan? Apa karena tidak ada minat atau tidak
tersedianya pekerjaan sesuai bakat mereka? Mana lebih sering? ^_^ (Silahkan cek
sendiri ya?)
Kami bekerja
juga tidak hanya sesuai dengan kemampuan dan dibuatkan suasana kerja yang
nyaman tetapi juga karena ada idealisme, prinsip/doktrin, agar selalu disiplin
dan berdedikasi dalam bekerja yang tidak pantang menyerah. “Work and reward
include punishment”, itu yang selalu membuat kami terus bekerja dengan baik.
Ketika berprestasi, kami dihargai yang membuat yang lain ‘iri’ lalu mengikuti
jejak kami. Ketika kami tidak disiplin, kami dihukum sesuai dengan ‘kejahatan’
kami. Untuk yang satu ini, di duniamu juga sudah ada, tapi kebanyakan basa
basi, satu kali, tidak ditindak-lanjuti. Misalnya siswa terus dilatih ketika
ada acara olimpiade saja. Kemudian ketika berprestasi, diberi penghargaan.
Setelah itu, siswa itu “ditelantarkan” tidak terus dikembangkan. Siswa yang
lain yang tidak berprestasi dianggap sepele, padahal… sepertiku di depan bahwa:
3)setiap individu punya kemampuan/bakat sejak dia lahir. Dan
inilah tugas dari orang tua, guru dan (mungkin juga) masyarakat untuk melihat
bakat-bakat yang ada pada mereka, bukan hanya sekedar mendidik dan mengajar
sesuai dengan panduan yang ada,sesuai dengan keinginan kita sendiri. Kemudian
kembangkan dengan pembelajaran yang sesuai dengan bakat mereka, bukan Cuma
minat saja. Ingat: 4)minat bisa dibentuk tapi bakat tidak!
Jadi jangan…”
“Kruuuuukkkkkk…!!!”
Ceramahnya terpotong karena suara perutku yang belum makan pagi tadi seblum
berangkat ke sawah. Aku hanya nyengir ke dia, dan dia menggangguk.
“Sepertinya
kamu lapar. Sebaiknya kamu pulang dulu, makan lalu baru ke sini lagi tuk
melanjutkan pekerjaanmu.” ,katanya.
“Kamu..?”,
sahutku pendek.
“Aku?
Memangnya ada apa denganku? Tidak mungkin kan aku terus di sini, menunggumu
lalu memberimu ceramah lagi. Hey..! Aku punya banyak pekerjaan juga.
Kapan-kapan kalau kita berjumpa lagi, mungkin di situ nanti kita bisa
cakap-cakap lagi. Lagian kamu sudah pinter, emoh lah kalau aku yang kasi
ceramah. Sok tahu lah tar kau bilang aku.”, ketusnya.
Aku menghela
nafas sejenak kemudian beranjak mengambil sandalku dan kubersihkan dari bekas
lumpur. Setelah selesai aku hendak mengambil cangkulku dimana si Babuang tadi
duduk. Tapi, dia sudah tidak ada. Tapi dia memang benar. Keluhanku hanya sebuah
respon, yang terpenting bagaimana menyikapi keluhanku itu. Dan yang terpenting
lagi, aku lapar! Aku harus pulang buat makan, nanti aku balik lagi buat
melanjutkan pekerjaanku lagi.
By Responding
your complain positively, it’s not gonna make another complain (I hope so :P)
Thx, Babuang!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar