Sabtu, 16 Mei 2015



KELUHAN: HANYALAH SEBUAH RESPON
(sebuah opini)

Pagi buta aku sudah berangkat ke sawah buat mencangkul. Aku airi sawahku yang sudah mulai mengering karena sudah lama aku tak dating ke sawah untuk bercocok tanam. Alasannya simple : tidak sempat! Lalu aku mulai mencangkul, membuat selokan kecil untuk mengurangi becek tempat bibit nanti. Tapi, tanahnya masih keras sehingga cukup sulit untuk mencangkulnya. Hmmm…

Aku menjerit ,sakit! Secara tiba-tiba seekor “Babuang” (semut hitam yang biasa hidup di pematang sawah) menggigitku. Aku tabok dia. Aku geram, jengah, marah dan mendelik kearah semut itu dan hendak menginjaknya tapi dia malah tersenyum. Aneh…
“Kenapa kau tersenyum setelah berbuat jahat kepadaku. Akan kuinjak kau semut nakal”, kataku.
Dia menyahut, “Dari tadi aku panggil-panggil tapi kau tidak menyahut makanya aku gigit. Aku hanya ingin bersua denganmu,kebetulan aku lewat di sawahmu ini.”

Aku urungkan niatku menginjaknya. Aku duduk di pematang sambil mengurut kakiku yang perih karena gigitan semut yang cengar cengir di sampingku. “Hmm.. ada apa?Sudah puas menggigit?”, tanyaku ketus.
Dia tersenyum. “Bukan begitu kawan(sok kenal sok deket aja nie semut). Aku hanya tertarik dengan desahanmu, keluhanmu ketika kau mengetahui sawahmu yang sudah banyak menelan biaya ini masih tak jadi apapun. Bahkan kini sudah mulai mengeras lagi, sehingga hampir harus mengulang untuk menggemburkannya lagi.”
“Memangnya  salah? Itu hakku kan buat mengeluh? Apa rugimu?”, sahutku makin ketus.
Ia naik ke atas ujung pangkal cangkulku lalu duduk di situ. Tersenyum lagi. Cengar cengir lagi. Iya.. lagi!
“Keluhanmu itu memang tak merugikan siapapun, itu adalah hakmu dan menurutku itu normal dan sah-sah saja.”
Aku kernyitkan kening. Apa? Keluhanku adalah normal? Masak iya sih? Perasaan kalau orang mengeluh pasti sering disamakan dengan malas, cepat menyerah dan akhirnya di-bully atau diperhitungkan lagi kinerjanya (kalau di tempat kerja, istilah halus untuk kata ‘dipecat’). Lalu kenapa…
“Terasa aneh bagimu ya kalau aku bilang mengeluh itu normal?”, katanya memotong heran di kepalaku.
“Tentu saja aneh.”, sahutku cepat. ”Biasanya kalau orang yang mengeluh itu pasti akan dicap jelek: malas lah, tidak semangat lah, gampang menyerah lah…bla bla… “
“Itu di duniamu, tapi tidak di duniaku”, jawabnya sambil tersenyum. “Akan kukatakan suatu rahasia padamu, kawan. Dengarlah baik-baik.”
Aku benahi tempat dudukku dan dengan agak heran dan penasaran aku mulai mendengarkannya.

“Kami bangsa semut dikenal oleh bangsa manusia sebagai makhluk terrajin di dunia. Selalu bekerja siang dan malam, tidak pernah mengeluh dan kuat dalam membawa makanan ke sarang. Tapi… hello..!! Tidak pernah mengeluh? Memangnya kalian mengerti bahasa kami sehingga kalian bisa bilang kami tidak pernah mengeluh? Itu kan Cuma cerita inspiratif yang dikarang agar orang-orang termotivasi dan bersemangat dalam bekerja. Tapi sebetulnya: “Kami pernah mengeluh”, walau tidak sering.
Keluhan adalah hal yang normal, seperti yang kubilang di awal tadi. 1)Keluhan hanyalah sebuah respon untuk suatu ketidakberdayaan, ketidakmampuan akan menangani sesuatu. Bukankah semua orang punya batasan akan kemampuan, kekuatan dan pemikiran? Bukankah tidak setiap orang bisa mengungkapkan keterbatasan itu dengan jujur terbuka  secara verbal kepada orang lain?
Di sinilah bedanya ‘dunia sosial’mu dengan dunia sosial kami. 2)Kami menanggapi keluhan dengan positif bukan dengan cara yang negatif, tidak seperti duniamu yang salah tangkap dalam merespon setiap keluhan itu.

Mengingat akan keterbatasan dalam setiap individu, kami dibedakan dalam tugas-tugas kami walau kami dalam 1 jenis kelompok yaitu pekerja, bahkan juga untuk para pejantan. Kami ‘disortir’ menurut kemampuan dan minat kami: ada yang ditempatkan di bagian mengurus ratu, mengurus telur, mengurus stok makanan, mengurus/membuat sarang, mencari makanan, dan sebagainya. Awalnya kami bekerja menurut minat kami, karena minat akan membuat orang termotivasi. Tapi seiring waktu, pasti akan ada saja yang mencapai batas minatnya yang terbentur dengan batas kemampuannya. Bisa ditebak: keluhan, yaa.. keluhan. Itulah yang akan mereka keluhkan karena minat mereka saja tak sanggup untuk membuat mereka bertahan. Harus ada juga kemampuan dalam mendukung pekerjaannya. Karena itu, kemudian kami dilihat dari kemampuan kami dan ditempatkan sesuai dengan kemampuan kami tersebut.

Apakah tidak akan ada keluhan berikutnya jika hanya ada kemampuan tapi tidak ada minat? Solusinya adalah : nyaman dalam bekerja. Meski tidak ada minat, tapi jika dalam bekerja, kami bisa menyelesaikan dengan baik sesuai dengan kemampuan, lalu suasana bekerjanya nyaman aman, tidak bikin “gerah” maka otomatis minat bisa dimunculkan. Kemampuan itu sudah kami miliki sejak lahir. Bakat, mungkin itu istilah kalian untuk itu. Tidak sedikit bukan orang berbakat tidak sesuai dengan bakat/kemampuannya itu bukan? Apa karena tidak ada minat atau tidak tersedianya pekerjaan sesuai bakat mereka? Mana lebih sering? ^_^ (Silahkan cek sendiri ya?)

Kami bekerja juga tidak hanya sesuai dengan kemampuan dan dibuatkan suasana kerja yang nyaman tetapi juga karena ada idealisme, prinsip/doktrin, agar selalu disiplin dan berdedikasi dalam bekerja yang tidak pantang menyerah. “Work and reward include punishment”, itu yang selalu membuat kami terus bekerja dengan baik. Ketika berprestasi, kami dihargai yang membuat yang lain ‘iri’ lalu mengikuti jejak kami. Ketika kami tidak disiplin, kami dihukum sesuai dengan ‘kejahatan’ kami. Untuk yang satu ini, di duniamu juga sudah ada, tapi kebanyakan basa basi, satu kali, tidak ditindak-lanjuti. Misalnya siswa terus dilatih ketika ada acara olimpiade saja. Kemudian ketika berprestasi, diberi penghargaan. Setelah itu, siswa itu “ditelantarkan” tidak terus dikembangkan. Siswa yang lain yang tidak berprestasi dianggap sepele, padahal… sepertiku di depan bahwa: 3)setiap individu punya kemampuan/bakat sejak dia lahir. Dan inilah tugas dari orang tua, guru dan (mungkin juga) masyarakat untuk melihat bakat-bakat yang ada pada mereka, bukan hanya sekedar mendidik dan mengajar sesuai dengan panduan yang ada,sesuai dengan keinginan kita sendiri. Kemudian kembangkan dengan pembelajaran yang sesuai dengan bakat mereka, bukan Cuma minat saja. Ingat: 4)minat bisa dibentuk tapi bakat tidak! Jadi jangan…”

“Kruuuuukkkkkk…!!!” Ceramahnya terpotong karena suara perutku yang belum makan pagi tadi seblum berangkat ke sawah. Aku hanya nyengir ke dia, dan dia menggangguk.
“Sepertinya kamu lapar. Sebaiknya kamu pulang dulu, makan lalu baru ke sini lagi tuk melanjutkan pekerjaanmu.” ,katanya.
“Kamu..?”, sahutku pendek.
“Aku? Memangnya ada apa denganku? Tidak mungkin kan aku terus di sini, menunggumu lalu memberimu ceramah lagi. Hey..! Aku punya banyak pekerjaan juga. Kapan-kapan kalau kita berjumpa lagi, mungkin di situ nanti kita bisa cakap-cakap lagi. Lagian kamu sudah pinter, emoh lah kalau aku yang kasi ceramah. Sok tahu lah tar kau bilang aku.”, ketusnya.

Aku menghela nafas sejenak kemudian beranjak mengambil sandalku dan kubersihkan dari bekas lumpur. Setelah selesai aku hendak mengambil cangkulku dimana si Babuang tadi duduk. Tapi, dia sudah tidak ada. Tapi dia memang benar. Keluhanku hanya sebuah respon, yang terpenting bagaimana menyikapi keluhanku itu. Dan yang terpenting lagi, aku lapar! Aku harus pulang buat makan, nanti aku balik lagi buat melanjutkan pekerjaanku lagi.

By Responding your complain positively, it’s not gonna make another complain (I hope so :P)

Thx, Babuang!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar